Laman

Rabu, 21 April 2010

our forests are crying :'(

Paru-paru dunia. Itulah yang sering kita katakan jika berbicara tentang hutan. Manusia tidak dapat bernafas tanpa paru-paru, ternyata dunia pun demikian. Dunia tidak dapat bernafas tanpa paru-paru mereka yang sering kita sebut hutan tersebut. Jika hutan di dunia ini habis, bagaimana nasib hewan-hewan di dalamnya? Bagaimana nasib air yang biasanya diserap oleh akar pohon? Bagaimana nasib manusia jika tak dapat menghirup oksigen dari pohon lagi? Apa kita masih dapat bertahan hidup?
Banyak sekali pertanyaan dan masalah yang timbul dengan gundulnya hutan-hutan di dunia, it's the magic of forest. 'Mereka' akan menguntungkan jika mereka ada, namun sangat merugikan jika tidak ada. Dan lebih parahnya lagi, mereka habis karena tangan-tangan manusia sendiri. Seperti lirik lagu Ebiet G. Ade yang berjudul berita kepada kawan :
"atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.. coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.."

Coba kita renungkan kata-kata tersebut, mungkin benar, alam yang dulu mau bersahabat dengan kita, para manusia, sekarang sudah mulai enggan bersahabat. Jangan tanya mengapa, semua orang pun pasti tahu jawabannya. Karena kalian, sebagai manusia tak pernah menghargai kami sebagai ciptaan Tuhan. Mungkin itulah yang akan dikatakan para rumput jika mereka mampu berbicara.

Sungguh mengerikan jika membayangkan hutan-hutan di dunia ini habis. Tak tersisa. Dan akan lebih mengerikan lagi jika manusia hanya menjawab, "Jika mengerikan untuk apa kita membayangkannya?". Semua orang tahu akan bahaya yang akan menimpa mereka jika tidak ada lagi hutan di dunia, tapi entah apa yang membuat sebagian orang terus menebang pohon-pohon di hutan. Mungkin hasil penjualan kayu yang sangat besar membuat mereka lupa akan keselamatan dunia dan generasi mendatang. Saya yakin, saya tidak akan bisa menghentikan aksi-aksi penebangan liar yang sekarang marak terjadi di Indonesia. I just a little girl. Tapi mungkin saya bisa mengajak semua orang di seluruh dunia, khususnya untuk generasi muda agar tidak menebang hutan pada masa yang akan datang, saat kita dewasa nanti.
Orangtua saya sangat sering bercerita tentang kota tempat saya tinggal saat ini, Bandung. Kicauan burung menyambut kita saat terbangun di pagi hari. Matahari bersinar cerah, namun tetap sejuk pada siang hari. Begitupun sore dan malam, udara selalu terasa sejuk, pemandangannya pun selalu menyegarkan mata dan hati. Kendaraan yang sangat jarang membuat siapapun bisa berbaring di tengah jalan, pohon dan bunga-bunga semakin mengasrikan pemandangan kota. Delman, dan gedung-gedung lama menjadikan Bandung mendapat julukan 'Paris Van Java'. Ah, tapi itu semua hanya masa lalu. Sekarang semua itu tidak dapat kita rasakan lagi. Udara pagi tidak terlalu dingin, siang, sore dan malam pun terasa panas. Apakah ini semua menandakan hutan kita hampir habis?

Kita sebagai generasi muda harus memiliki kesadaran akan pentingnya hutan. Sayangilah mereka seperti kita menyayangi diri kita sendiri sehingga kita tidak akan merusak mereka di masa mendatang.


Save our forests, Save the Earth !






Nb : Awalnya tulisan ini akan saya tulis di www.thinkquest.org, untuk diikutkan lomba di halaman 'Indonesia Of My Dream Contest', tapi berhubung dengan dilaksanakannya UN dan UAS saya menunda untuk menulisnya di sana. Tapi saat saya log in di thinkquest kemarin saya mendapat pesan bahwa lombanya telah berakhir dan tidak diperbolehkan mengedit apapun di halaman lomba, akhirnya saya menterjemahkannya kembali ke bahasa Indonesia dan menulisnya di sini. Maaf jika ada kata-kata yang kurang sesuai, dan semoga posting saya ini bermanfaat. Salam, Nada.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar anda, semangat saya :)))