Halaman

Kamis, 24 Desember 2015

kontribusi apa yg sudah aku berikan sebagai seorang muslim?

:"

Senin, 09 November 2015

Hai

Manusia memang kompleks. Kadang perlakuan yang kita harapkan dari orang lain nggak bisa dipaksakan, berlaku juga sebaliknya. Untukmu, aku sudah mencoba berbagai sudut pandang untuk mengerti, namun maksud itu ternyata punya banyak arti.

Ini bukan hanya masalah berpikir pakai otak namun juga tentang hati. Maaf ya, itu saja, kayaknya emang belum saatnya ngerti.

Senin, 21 September 2015

wkwk huhu sedih tapi ingin ketawa :"

Kamis, 17 September 2015

"We are what we repeatedly do. Excellence, then, is not an act, but a habit." - Aristotle

Rabu, 16 September 2015

Perhatian.

Bukan kebetulan ketika 'dipertemukan' dengan gambar itu di timeline LINE. Entah dari akun apa, terlalu banyak akun serupa yang dishare oleh sekian banyak orang sehingga sampai di timeline-ku.
Kemudian, sambil tertawa kecil kubayangkan lanjutan dari percakapan tersebut. Iseng, sih.

Co: *main basket*
Ce: *nontonin cowonya main*
Co: *ngeshoot dari garis 3point dan masuk, senyum ke arah cewenya sambil teriak* "SAYANG SHOOT YANG TADI BUAT KAMU YAA"
Ce: *tersipu malu*
beberapa menit kemudian...
Co: *berhasil ngeshoot dan masuk lagi, senyum ke arah cewe lain sambil teriak* "SAYANG, KALO SHOOT YANG INI BUAT KAMU"
Ce: *shock* *belum sempat marah, cowonya ngeshoot lagi, masuk*
Co: *merangkul teman satu timnya -yg juga cowo- lalu berbisik* "Kalo yang ini, khusus buat kamu sayang..."
...
...
...

Oke. Garing. Tapi percayalah, bukan maksud ngelucu. Entah mengapa percakapan lanjutan itu muncul dan mengalir begitu saja dalam pikiran. Jangan dianggap serius, hanya saja, percakapan di atas -khususnya yang original, sebelum kulanjutkan dan menjadi absurd- membuatku berpikir:
Kenapa kita sangat senang mendapat perhatian dari orang lain, khususnya lawan jenis. Atau yang sering orang bilang belakangan ini, mmm, 'baper'. Bawa perasaan. Kemudian dengan hadirnya perhatian-perhatian itu kita merasa perlu untuk membalasnya. Dengan perhatian juga, ataupun hal lain. Padahal, perhatian yang datang dari mereka belum tentu tulus. Kalau pun tulus, pantaskah kita untuk jadi 'baper'?

Hmm, mungkin 'baper' memang manusiawi.
Tapi kemudian, pernahkah kita berpikir untuk melakukan itu pada orang-orang terdekat dalam hidup kita? Orang tua, keluarga, sahabat. Pernahkah? Maksudku, ya, membalas perhatian-perhatian mereka. Perhatian-perhatian sederhana yang sangat sering mereka lakukan.

Ibu yang selalu bilang "Hati-hati, Da, palaur" dengan raut wajah khawatir setiap kali aku mengangkat panci berisi air panas untuk mandi di malam hari. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyum. Ia tak pernah bosan mengatakannya meskipun itu bukan kali pertama aku mengangkat panci berisi air panas. Bahkan, itu hal mudah yang sudah terbiasa kulakukan setiap pulang kuliah malam. Jarak yang jauh dari kampus membuatku sering tiba di rumah setelah gelap. Tapi perhatiannya tak pernah surut. Hari-harinya diisi dengan doa untukku dan keluarga. Tak seperti aku, yang seringkali melupakannya.

Begitu juga ayah. Yang dengan sindiran-sindirannya, kadang membuat aku kesal. Tapi sekesal apapun, rasa sayang tentu mengalahkannya. Aku tersenyum kecil tiap kali ayah menyindirku dengan kalimat, "Jam berapa, neng?" ketika aku pulang terlalu malam. Dan meskipun terkadang aku menunduk sambil menyembunyikan air mata yang mulai menetes setelah kau marahi, engkau tetap menjadi ayah terbaik yang selalu berharap aku tumbuh menjadi seorang yang kuat.

Satu lagi, adik. Dengannya aku berbagi setiap hal yang telah terjadi. Penting ataupun tidak. Ia selalu membuatku tertawa sedetik setelah kuutarakan masalah-masalah yang tengah melanda. Dan seketika, masalah yang tadinya seberat gunung itu sirna. Hanya dengan mendengar canda dari bibirnya. Ia yang menggerutu memintaku untuk lebih cepat menyelesaikan tugasku agar ia bisa meminjam laptop yang kugunakan. Aku merasa berguna karena terkadang berhasil membantunya menyelesaikan PR sekolah yang ia bilang "Lieur pisan". Kadang aku terlalu kasar padanya, hal yang bagiku sangat penting baginya adalah hal sepele. Kami pribadi yang sangat berbeda. Namun, apalah arti  perbedaan jika nyatanya kami saling melengkapi dan menjadi sangat kompak karenanya.

Tiga per sekian. Masih banyak orang yang seharusnya kubalas perhatiannya, kasih sayangnya. Masih banyak yang lebih penting daripada memikirkan satu orang yang belum tentu memikirkanku. Dan tentu, ada Allah di atas segalanya. Kepada-Nya lah aku harus banyak bersyukur, meskipun nikmat yang Dia beri akan selalu lebih banyak dibandingkan dengan ucapan syukurku.

Begitulah, renungan singkatku malam ini. Maaf bila sedikit berlebihan. Oiya, kata temanku, baper itu arti sebenarnya adalah bawa paper. Abaikan, efek tugas Grafika Komputer.

Jumat, 26 Juni 2015

Benarkah Sabar Ada Batasnya?

gambar dari [sini]

"Orang sabar disayang Tuhan, sabar teuing teu kabagean~"

Haha.
Candaan jaman smp yang masih terngiang sampai saat ini.
Tapi, pernah kepikiran kah, ada atau tidaknya batas dari sabar itu sendiri. Kalau memang ada, apa?

Innallaha ma'ashobirin
Sesungguhnya Allah itu bersama orang yang sabar.

Nah, itu jawabannya. Sabar itu, sampai kapan kita mau tetap bersama Allah. Selama kita masih mau bersama Allah, bersabarlah. Karena, iman itu setengahnya adalah syukur, dan setengahnya lagi sabar.

"Sungguh jika kamu bersyukur, niscaya Kami akan menambah (nikmat) kepadamu." (QS. Ibrahim : 07)
"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas." (QS. Azzumar : 10)
"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (Ali Imran :200)

Sabar itu ada tiga. Pertama, sabar dalam ketaatan.
Dalam ketaatan kepada sang Pencipta, kita pasti akan diberikan ujian. Contoh sederhananya, menahan godaan pengen nyontek waktu ujian, haha. Iya, gimana nggak tergoda, pengawas gak acuh, posisi duduk strategis, kanan kiri udah gak tenang.
Itu dia ujiannya, tinggal kita pilih. Nyontek, atau berusaha sampai titik akhir.
Kemana pun kita pergi, Allah akan selalu memberikan ujian. Allah akan menguji di titik-titik terlemah kita. Pertanyaannya, akankah bertahan dalam sabar?

Kedua, sabar dalam tidak melakukan maksiat.
Tahan diri. Untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak diperbolehkan agama. Ini tentu butuh proses, sedikit-sedikit, sampai benar-benar gak dilakukan lagi.

Ketiga, sabar dalam menghadapi ujian.
Takdir Allah itu, ada yang menyenangkan, dan ada juga yang terasa pahit (yaa paling tidak itu yang kita rasakan, padahal kan belum tentu yang pahit itu buruk buat kita). Misalnya kita kehilangan sesuatu yang berharga, atau seseorang. Kadang, Allah mengambil apa yang kita cintai untuk mengetahui, kita lebih cinta kepada siapa.

Kalau ada kesusahan, cari Allah dulu, baru manusia. Bukan sebaliknya (sebenernya, ini sindiran buat aku sendiri sih huhu) :')
Curhat ke manusia itu untuk mencari solusi, bukan untuk mengadukan takdir kita.

Jangan sampai terucap "Kenapa harus aku?", atau "Ya Allah meni kieu-kieu teuing...", hehe.

inspirasi: Kalkulus FPMIPA, April 2015

#9Ramadhan

Selasa, 31 Maret 2015

Hari terakhir di bulan Maret. Makasih mba iput, cipaul, dan c2 udah bikin kaget kemarin siang. Kuenya enak, tp kurang banyak wkwk *gatau malu, udah dikasih juga ._.

Minggu, 29 Maret 2015

Fenomena Lemahnya Iman dan Cara Menguatkannya

"Namanya juga manusia, lah. Wajar kalau imannya naik turun"
Iya, sih. Aku sering banget denger kalimat itu, malah dulu sering bilang kayak gitu. Sebagai manusia (fyi: aku manusia loh), aku juga merasakan hal itu dan kadang aku menyadari sebabnya, kadang juga tidak.

Pernah, ada situasi dimana aku ngerasa males buat ibadah. Setelah yang wajib tuntas, selesai. Kadang kalo lagi gitu, yang wajib pun terasa berat. Pernah selepas salat maghrib aku bicara sendiri sama Allah, maaf Ya Allah aku lagi males tilawah, nanti lagi ya. Parah kan :(
Yang tadi itu, aku rasa sih dari diri aku sendiri yang nggak mau ngelawan bisikan-bisikan sesat.

Satu lagi, biasanya terjadi kalau lagi sibuk banget. Sebenernya aku tau mana yang harus didahulukan, tapi kenyataannya? Aku cupu banget :( Sampai bener-bener kesindir sama ini:

Iman itu, bagi muslim seperti pakaian. Ia mengalami fluktuasi, naik turun yang tak tentu. Kalimat yg paling atas tuh bener sih, tapi bukan jd alasan buat manusia untuk pasrah di keadaan lemahnya iman tersebut. Kita kan wajib berusaha ya. Nah, ini dia fenomena lemahnya iman yang harus kita waspadai:

1. Terjerumus dalam kemaksiatan: Jika kau terjatuh ke dalam lubang, segeralah naik kembali. Jika kau terjerumus ke dalam kemaksiatan, cepat-cepatlah sadar dan bertaubat.

2. Tidak tekun dan bermalas-malasan dalam beribadah. Tekun: khusyu, tidak dalam keadaan jiwa yang kosong.
"Tidak akan diterima doa dari hati yang lalai dan main-main"

3. Memudarnya tali ukhuwah

Kalau sudah terjadi fenomena-fenomena tersebut dalam diri manusia, segeralah lakukan hal-hal yang bisa memperkuat iman:
1. Menuntut Ilmu (Q.S Fatir : 28)
2. Menyimak dan mentadaburkan ayat
3. Dzikir (mengingat Allah)
4. Mengingat keagungan-keagungan Allah (Q.S Al-Ahzab : 21)
5. Aktivitas yang mengacu pada merenungkan Allah
6. Mengikuti dan berkomitmen untuk Halaqah dzikir
7. Memperbanyak amal shaleh: Menyegerakan, istiqomah, mengulang
8. Berharap amalnya diterima Allah dan merasa cemas jika tidak diterima
9. Melakukan berbagai macam ibadah
10. Dzikrul maut (mengingat kematian)
11. Mengingat akhirat
12. Bermunajat kepada Allah
13. Tidak berangan-angan secara muluk-muluk
14. Memikirkan kehinaan dunia
15. Mengagungkan hal-hal yang sempurna di sisi Allah
16. Saling tolong menolong dan loyal sesama muslim
17. Tawadhu (rendah hati)
18. Muhasabah diri (Q.S Al-Hashr : 18)
19 Doa (Q.S Al-Baqarah : 186)

Mudah-mudaha kita bisa menjaga iman kita dan selalu dekat dengan Allah. Saling menguatkan ya :')

sumber: materi liqo 24/02/2012 (salam kangen buat afroza hadirah )

Peta Konsep Linux Shell dan Scheduling


Jumat, 20 Maret 2015

Baik

Berubah itu, harus dilakukan ke arah yang lebih baik, dan dengan cara yang baik.
Semangat menjadi lebih baik, sahabat. Saling mengingatkan dalam kebaikan :)

Kamis, 05 Maret 2015

Disuruh istirahat. Bentar, semoga. Makasih buat semua yang udah ngerti :')

Rabu, 18 Februari 2015

Praktikum PBO

Haaai udah lama pisan gak nulis hohoho. Sekarang lagi praktikum PBO tapi aku pusing jadi mau nulis dulu aja.

Daaan setelah sekian lama, nama aku masuk ke daftar c2 juga! Alhamdulillah~
Udah. Maaf geje.

Rabu, 21 Januari 2015

DINAMIK 10

Dinamik merupakan kegiatan rutin yang diadakan Mahasiswa Ilmu Komputer dan Pendidikan Ilmu Komputer setiap tahunnya pada bulan Februari, dalam rangka memperingati Dies Natalis Ilmu Komputer UPI. Dinamik merupakan event perayaan terbentuk nya Prodi Ilmu computer dan Prodi Pendidikan Ilmu Komputer sekaligus memperingati juga terbentuk nya himpunan jurusan yang kami sebut KEMAKOM (Keluarga Mahasiswa Komputer).Pada event tahunan akbar mahasiswa Ilmu Komputer dan Pendidikan Ilmu Komputer ini, Dinamik banyak menyelenggarakan acara berupa lomba untuk sekolah dan mahasiswa baik dari dalam UPI maupun dari luar UPI. Pada tahun 2015 nanti Dinamik genap berumur 10 tahun. Dinamik yang ke 10 ini hadir dengan mungusung tema "Semarak Satu Dekade Dinamik, Membangun Teknologi untuk Menyongsong Kompetisi Global dengan Menjunjung Kearifan Lokal" yang bertujuan untuk menambah wawasan masyarakat mengenai persaingan global di dunia it dewasa ini.

Ayo daftarkan dirimu di event IT terbesar di Jawa Barat ini~




Selain lomba2 di atas, ada Seminar Nasional, Bedah Buku dan Talkshow, Donor Darah, sama Pameran Karya juga!





web: dinamik.cs.upi.edu
twitter: @dinamikUPI

fb: Dinamik

Kamis, 15 Januari 2015

Tau gak? Aku kangen miskah :"

Selasa, 13 Januari 2015

Liburaaan~ part1

Hari gini liburannya masih gitu-gitu aja? Kita nggak ya, haha...

Berawal dari sms pemberitahuan pak menteri tentang liburan BEM, kami berkumpul jam 7 pagi di gik tercinta. Nggak sih, nggak jam 7, aku aja baru sampai jam 07.19 -jangan ditiru plis-
Yap, ternyata pak pres beserta jajarannya yang kreatif banget ini telah merancang sebuah acara 'liburan' buat anak-anak BEM. Kami nggak diberitahu liburannya seperti apa, hanya dijarkom barang bawaan, dresscode, dan diberitahu bahwa kami akan berjuang untuk KEMAKOM.
Sekitar jam 8 pagi, total sebanyak 24 orang siap berangkat menuju Sasana Olahraga Ganesha (saraga), aku dan beberapa teman menggunakan motor dan sisanya menggunakan angkutan umum.

Setelah semua sampai di saraga, kami melakukan briefing dan dibagi kelompok. Aku kebagian sama uyung dan galih. Ternyata kami akan jualan!
Produk sudah disiapkan yaitu kue-kue basah dan setiap kelompok harus menjual 4 kotak yang masing-masing berisi 10 kue. Kini saatnya menjemput pembeli. Lokasi dibagi dua, ada yang ke simpang dago, dan ada yang ke monumen perjuangan. Kelompok kami ke monumen perjuangan, dan kami bertiga gak kebayang rute yang diinstruksikan kang Arif. Akhirya kami membuat rute perjalanan sendiri yaitu lewat cfd (car free day) dago lalu masuk ke jalan sebelah RS Borromeus (Jl. Hasanudin, kalau tidak salah), dan aku yang merupakan satu-satunya orang Bandung asli di dalam kelompok sok-sok-an memimpin *menigeuleuh hahaha.

Pembeli pertama kami temui saat baru saja keluar dari saraga. Wah bukan main senangnya kami. Gimana nggak, baru saja keluar garis start, sudah ada pembeli. Kami pun melayani bapak-bapak itu dengan sangat profesional wkwkwk, meskipun beliau hanya beli satu.
Semangat kami yang awalnya menggebu karena adanya pembeli pertama tadi, lama kelamaan surut karena setelah lama berputar-putar di cfd, tidak ada satupun yang membeli dagangan kami. Asli sedih pisan. Dari sekian ratus orang yang ada di sana, gak ada satupun yang membeli. Responnya beragam, ada yang tersenyum sambil bilang maaf, ada yang hanya menggeleng, diam, bahkan ada juga yang memasang wajah kurang bersahabat.
Hampir putus asa, kami melewati sekumpulan anak-anak yang sedang mengumpulkan dana sambil bermain peran. Seperti drama musikal, diiringi permainan biola yang memukau. Di depan mereka disediakan kardus yang bertuliskan 'Kami Ingin Jadi Arsitek', dan ke dalam kardus itulah orang-orang yang hatinya tersentuh menyumbangkan uang.
Itu dia! Kami juga sepertinya harus menerapkan teori 'the power of words' dan akhirnya kami membuat tulisan di sebuah kertas 'Danus Perjuangan, untuk IT yang lebih maju'. Kami menulis begitu karena memang kami mengumpulkan dana demi menyukseskan acara-acara jurusan untuk memajukan IT, salah satunya dinamik.
Bermodalkan kertas itu kami kembali berjalan menuju monumen perjuangan. Di jalan Hasanudin pun kami tidak mendapatkan pembeli, karena jalan tersebut tidak terlalu ramai, bukan tempat orang berlalu-lalang seperti cfd.

Setelah berjalan cukup jauh, kami sampai di Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat. Ini dia penampakannya.
gambar dari [sini]
Di depan monumen tersebut ada 2 buah taman yang merupakan pemisah antara monumen dengan gedung sate. Kami tidak berjualan di monumennya, melainkan di taman depannya. Namun sebelumnya kami istirahat sejenak di bawah pohon rindang sambil mengamati keadaan. Di sana tidak kalah ramai dengan di cfd, bahkan menurutku tempat ini lebih potensial. Tapi karena capek dan belum ada yang beli jadi mood jualan aku ilang huhu. Kami berputar-putar di sana, berteriak-teriak 'Kue kueee, 5ribu duaaa', menawarkan sana-sini, namun tak kunjung ada pembeli. Kami juga tak lupa membaca surat Al-Insyirah ketika ada kesempatan. Beberapa kejadian lucu terjadi di sini, salah satunya adalah tragedi Galih yang dipeluk banci. Hahaha. Jadi saat kami sedang berjalan tiba-tiba seorang banci menghampiri Galih dan bilang, "Hai aa ganteng~", kemudian dia memeluk Galih. "Apaan sih lagi jualan tau!", seru Galih sambil melepaskan tangan banci itu dari pundaknya kemudian menghindar. Itu cukup menghibur lah di tengah kegundahan hati kami hahaha *lebay.
Kami makin putus asa saat Uyung membuka LINE, dan kang Arif bertanya sudah laku berapa dagangan kami. Uyung pun membalas 'satu', tanpa keterangan satu buah, atau satu dus.
Hampir putus asa, kami berniat pindah ke taman sebelahnya. Namun saat sudah dekat dengan pintu keluar, dari jauh ada tiga orang yang memperhatikan kami. Aku memperlambat jalan karena mengira itu adalah pembeli yang tertarik dengan dagangan kami.
"Maaf, boleh minta waktunya sebentar?", tanya salah satu dari mereka. Aku, Uyung dan Galih saling pandang. "Kami sedang ada tugas, mau nanya-nanya sedikit tentang pahlawan, boleh?", lanjutnya. Akhirnya kami mengiyakan. Kami diwawancara sambil direkam dengan latar belakang monumen. Wawancaranya cukup singkat, hanya sekitar 3 menit. Setelah itu kami sedikit berbincang, ternyata mereka dari UNIKOM.
"Sekalian beli atuh, kang", kataku. Lalu kami menjelaskan mengenai dinamik dan mereka pun membeli dagangan kami. Hanya satu orang sih yang beli, duanya lagi gak bawa uang katanya. Tapi gak apa deh lumayan hehehe.
Setelah itu kami pindah ke taman yang kedua. Di sana sedikit lebih ramai. Tapi tetap saja, tidak berpegaruh pada dagangan kami. Sementara itu, beberapa kelompok yang kami temui ada yang sudah laku 1 dus, bahkan 2 dus. Kami hampir putus asa. Setelah menawarkan pada sebuah keluarga yang sedang duduk-duduk dan kembali ditolak, kami hedak pergi meninggalkan taman tersebut. Tapi tiba-tiba keluarga tersebut memanggil kami kembali, dan suara mereka tuh bak suara malaikat yang membangkitkan semangat kami di tengah keputusasaan wkwkwk lebay banget tapi emang bener. Mereka membeli 2 kue. Semangat lagi, kami kembali ke taman yang pertama dan bertemu dengan kelompok kang Arif, kang Asep, bang Reggy juga kelompok Nurul, Qory, Egi. Mereka akan kembali ke salman, tetapi terlebih dahulu menunggu bang Reggy yang masih belanja. Lah, orang jualan kok ini malah belanja, haha. Kami yang semangatnya masih menggebu memutuskan untuk kembali berjualan, dan kini menggunakan teori 'the power of mouth' plus 'the power of tampang memelasnya Galih'. Nggak, nggak, yang kedua bercanda. Jadi, kini kami berjualan sekalian promosi acara-acara ilkom seperti P2M dan DINAMIK. Ternyata, setelah tahu bahwa kami sedang ngedanus, orang-orang lebih tertarik untuk beli, bahkan banyak bertanyamengenai dinamik sekaligus mendoakan kami untuk kesuksesan acara tersebut. Mulai dari sana, dagangan kami laku! Bahkan ada seorang ibu yang merupakan sarjana komputer membeli dagangan kami satu dus sekaligus!
Sayang, waktu kesepakatan untuk berkumpul di salman sudah tiba (bahkan lebih!). Kami segera menuju salman ITB untuk salat dzuhur dan melanjutkan agenda liburan selanjutnya.

Kamis, 01 Januari 2015

Mau cerita ih

-jangan hiraukan judul gak kreatif di atas, hanya ingin bercerita...

sub-judul-1: Mogok
Yap, hari itu UAS matdis jam setengah 8 pagi. Hari sebelumnya mati lampu sejak sore hari hingga tengah malam dengan keadaan laptop yg batereinya benar-benar nol persen dan hp yang hamir mati. Intinya aku gak belajar banyak malam itu, meskipun sebenarnya ada waktu di hari-hari sebelumnya dan mati lampu ini harusnya gak aku jadikan alasan. Ah, nad.
Pagi itu aku berangkat dengan santai, jalanan gak terlalu macet seperti senin biasanya karena mungkin anak-anak sekolah sudah libur. Tapi, ketika memasuki jalan cipaganti dan sampai di sebuah stopan, tiba-tiba si merah -motor- mati. Gak panik sih, lebih ke kesel, soalnya tiap naik motor ini, sering mogok, dan di cipaganti ini udah kali kedua.
Berbagai cara dilakukan: selah, dorong, cari polisi, cari bengkel, dan sebelumnya sms temen dulu minta tanyain bisa uas susulan apa enggak. Begitulah, hanya bisa berdoa karena hanya Allah yang bisa menolong, entah bagaimana caranya. Dan beberapa saat kemudian, si merah kembali menyala. Alhamdulillah, akupun segera melanjutkan perjalanan ke kampus meskipun telat satu jam 15 menit dan harus ujian sendiri di ruangan dosen.

sub-judul-2: Kecewa
Kecewa tuh wajar kan. Iya nih aku lagi ngerasain kecewa karena suatu hal. Intinya sih peluang aku untuk mencapai sebuah target kini semakin kecil, meskipun masih ada kemungkinan. Mudah-mudahan kecewa ini gak berlarut dan bisa jadi penyemangat buat terus berusaha. Baruuuu banget tadi kecewanya :')

sub-judul-3: Tanpa judul
Banyak rencana gak terlaksana karena pernapasan yang kurang bersahabat 2 hari terakhir. Memutuskan untuk tidak banyak keluar rumah dan naik motor dulu untuk sementara waktu. Cepat berakhir yah, aku kangen cipratan air hujan dan angin :')