Halaman

Minggu, 21 Januari 2018

Fase

Tiap manusia pasti bakal melewati banyak fase di kehidupan mereka. Fase-fase itu kayak anak tangga, harus ditapaki semua. Kalo dilewat satu, mungkin masih bisa, sulit tapi, dan bakal capek kalo terus-terusan. Kalo dilewat dua, entahlah, mungkin bisa, tapi kemungkinan bakal jatuh. Tiga? Kurasa nggak bisa.

Iya gitu Nad?
Gak tau juga sih. Paling enggak itu yang aku rasain sekarang.

Kadang, pikiranku melompat jauh ke 6 sampai 7 anak tangga di hadapanku, dan menerka-nerka bagaimana bahagianya berada di sana. Tapi, sehebat apapun berkhayal, nyatanya posisiku masih di sini. Di tempat yang sama. Tak bisa tau-tau *tring!*, berpindah ke atas sana. Dan lagi, tentu akan berbeda rasanya antara 'tiba-tiba' berada di atas dengan menapaki satu persatu anak tangga.

Iya gitu Nad?
Gak tau juga sih. Ini filosofi yang kudapatkan selama masa skripsi plus ketika naik ke loteng buat ngejemur baju kemarin pagi.

Udah.

Selasa, 02 Januari 2018

Kangen

Anggap ini sekuel postingan panjang yang berjudul 'Gagal Maju Sidang?' kemarin. Jadi setelah cerita itu, sepuluh hari pun berlalu. Hari menegangkan itu tiba. Sidang.
Aku bukan satu dari empat nama yang maju sidang, tapi kenapa aku ikut tegang, takut, rusuh, dan segala macem ya? Atau aku yang terlalu sok sibuk ngurusin urusan mereka wkwk entahlah. Yang jelas yudisium tak berlalu begitu saja seperti yang lalu-lalu, ada rasa haru dan bangga yang entah kenapa lebih kuat di yudisium kali ini meskipun bukan aku yang bertambah gelar. Mungkin karena ada dua teman timku -Vini, bang Reggy- yang berhasil dan aku tau perjuangan mereka. Juga ada Galih yang selama ini pol polan bantuin timku, dan Misdan yang juga sering ikut nongkrong di pojok Perancis C2 Camp hahaha.
Setelah itu perasaanku normal kembali sampai postingan bang Reg terbit di blognya yang cihuy. Nih kalo mau baca: Desember, Terima Kasih, Semoga Bertemu Lagi. Postingan itu membawa kembali memoriku, memotong-motongnya, dan membumbuinya dengan bumbu kacang, kemudian disiram dengan jeruk nipis. Voila! Perasaanku jadi kayak gado-gado. Campur aduk.

Terus tiba-tiba aku baper gitu ehehehe. Kangen. Kangen kuliah, kangen temen-temen. Kangen tim SOA. Kangen merpus. Semuanya pokoknya. Aku punya temen baik-baik banget yah :') Patut disyukuri tapi masih aja suka lupa.

Terharu banget dipertemukan sama tim soa yang biarpun anggotanya gak ada yang normal tapi ternyata bikin kangen.
Ada Vini yang kata bang Reggy mah 'biduan dadakan', apa-apa dinyanyiin, ditanya apa jawabnya nyanyi, sampe kita-kita manggilnya Vini Jamila. Tapi, cuma Vini yang paling mengerti tentang kelangsungan hidup teman-temannya, selalu bawa persediaan makanan segudang biar perut kita tetap sejahtera.
Terus ada Bang Reg yang suka ngode, kalo nemu kesulitan bukannya nanya to the point, malah ngode. Tiap pagi kalo ditanya 'dimana?' pasti jawabnya 'lagi ngantri sembako' alias ngantri kamar mandi di kosannya. Katanya sih saingan sama ibu-ibu, sambil ikut ngegosip kali ya.
Ada juga Ijal yang gak bisa bangun pagi. Paling jarang tercyduk sama dosen pembimbing jadi sering disangka menghilang, padahal mah enggak. Jangan liat dari sampulnya ya, dia sama nggak normalnya kok dengan teman-teman satu timnya.
Satu lagi aku, gak usah dideskripsikan lah ya. Aku tau aku yang paling normal di tim ini wkwkw *dusta.

Aku juga kangen merpus di pojok Perancis sambil pencitraan ngirim foto di grup kelas pake caption 'C2 Camp'. Di c2 camp biasanya ada aja kejadian-kejadian aneh yang nggak bisa diceritakan satu-satu karena banyak banget. Kadang ada quotes dari Maziz yang awalnya bijak tapi ujungnya..... ah sudahlah. Terus Cipa yang tiba-tiba ngingetin solat sambil bilang 'Hayu ih nad, hidup seseorang itu bisa dilihat dari gimana dia solat loh'. Kadang juga ada Mba Iput yang masih suka ikut nongkrong c2 camp sambil bantu-bantuin kita padalah dia udah lulus. Terus ada Galih yang lagi ripuh sama skripsinya sendiri tapi masih mau aja diteror sama empat orang tim soa, dan beneran dibantuin sampe beres wkwkwk gak ngerti lagi. Belum lagi pas hari H prasidang, Misdan dateng nyamperin tim aku yang sedang ripuh dan tiba-tiba bilang 'Ada yang bisa dibantu?', padahal hari itu dia juga prasidang. Udah gitu Vini dan bang Reg yang udah lulus masih support aku dan Ijal banget.
Dan masih banyak lagi yang nggak bisa disebutkan satu per satu.

BAIKKKK BANGET YA PUNYA TEMEN-TEMEN TEH :')
Gimana nggak terharu dan kangen coba sama mereka.

Sudah, itu saja. Bangga sekali sama kalian, selamat ya sekali lagi.

nih oleh-oleh dikit hehe

Halo kopi!

Selasa, 19 Desember 2017

Gagal Maju Sidang?


Mengundurkan diri 2 jam sebelum prasidang ternyata rasanya cukup sakit. Tapi, banyak cerita dan hikmah di baliknya, akan sedikit kuceritakan di sini. Sepertinya ini tulisan panjang pertamaku setelah sekian lama.

Berawal dari jumat siang. Setengah jam sebelum pendaftaran prasidang ditutup, aku sama tim dapet persetujuan dosen pembimbing untuk daftar prasidang. Kondisi saat itu, aplikasi kami belum sempurna, pun dengan dokumen-dokumen persyaratannya. Bermodal nekad dan keyakinan bahwa hingga hari Senin kami bisa selesai -prasidang dijadwalkan hari senin-, kami pun mendaftarkan diri.
Esoknya, hari Sabtu, kami kembali ke kampus dan merelakan akhir pekan kami untuk mengejar prasidang. Biasanya, kami dibantu seorang teman dari angkatan 2014 -Haikal namanya, satu tingkat di bawah kami- untuk menyelesaikan aplikasi, karena memang dia lebih menguasai bidang tersebut. Tapi, hari itu Haikal nggak bisa hadir sehingga kami memutuskan untuk mengerjakan dokumen dulu saja. Tapi di tengah-tengah pengerjaan dokumen, aku sedikit dapet titik terang. Waktu baca buku, aku menemukan solusi atas kebuntuan aplikasi kami. Akhirnya, aku kembali ke aplikasi. Kupikir, jika punyaku berhasil, teman-teman satu tim ku pun pasti berhasil. Hari Sabtu, hingga malam hari di rumah aku sibuk dengan aplikasi, tak sedikitpun menyentuh dokumen. Hasilnya? Masih gagal juga.
Tiba hari Minggu. Kami kembali ke kampus dan kali ini dibantu Haikal.
Sampai pukul 4 sore, dan GIK -Gedung Ilmu Komputer- sudah hampir ditutup, tujuan belum juga tercapai. Aku dan tim pun berunding. Ada yang cenderung mundur, ada pula yang maju. Akhirnya kami memutuskan buat konsultasi dulu sama dosen pembimbing. Satu menit, dua menit, setengah jam, chat kami tak kunjung dibalas. Sampai akhirnya, GIK benar-benar ditutup dan kami menunggu di depan pintu, ditemani hujan. Banyak hal berkecamuk di pikiran kami masing-masing,  apalagi setelah tahu bahwa chat kami sudah dibaca oleh dosen pembimbing, namun tidak dibalas alias diread doang. Kami pun memutuskan untuk pulang dan menunggu balasan sang dosen.

Di jalan, awalnya aku sudah berpikir untuk mundur aja. Tapi entah kenapa pas masuk kamar dan lihat batik yang sudah kusiapkan di depan lemari, aku mendadak baper. Waktu itu sempat minta pendapat ke beberapa orang termasuk mamah, dan semuanya menyarankan untuk maju aja. Begitu juga dengan dosen pembimbing kami -yang akhirnya membalas-. Akhirnya, kami berempat sepakat untuk maju.
Malam itu, aku mengerjakan dokumen secepat yang aku bisa. Tidak ada kata tidur sebelum semuanya selesai. Tidak ada kata menyerah sebelum berjuang sampai titik darah penghabisan. Cie hahaha. Tapi seiring berjalannya waktu, kepanikan tidak dapat dihindari. Menjelang jam 6 pagi, aku nggak bisa lagi menahan rasa panik karena dokumen belum juga selesai dan namaku sudah terdaftar. Pikiran nggak menentu, air mata nggak bisa berhenti keluar. Akhirnya kuputuskan untuk siap-siap dan langsung berangkat ke kampus aja, siapa tau dengan bertemu teman-teman, aku bisa dapet motivasi baru dan pikiran yang jernih untuk melanjutkan dokumen. Di jalan, aku berusaha untuk selalu positive thinking. Ingat pesan teh Ipeh, selalu berhusnudzon kepada Allah. Sempat beberapa kali nyaris menabrak orang dan kendaraan lain karena kantuk yang tak tertahankan. Astaghfirullah. Tapi akhirnya alhamdulillah sampai ke kampus dengan selamat.

Di kampus, aku dan vini langsung bergegas ke ruang prodi untuk melihat penguji. Qadarullah, dari 4 orang di timku, hanya aku yang penguji dan ruang ujiannya berbeda. Ketiga temanku di ruang 2, dengan 3 orang penguji yang salah satunya merupakan dosen pembimbing kami sendiri, dan aku di ruang 5 dengan 3 orang penguji tanpa ada dosen pembimbing, karena dosen pembimbing kami yang satunya sedang di luar kota. Aku menghela napas panjang. Sempat down beberapa detik namun teringat kembali pesan teh Ipeh untuk selalu berbaik sangka terhadap apapun rencana Allah.

Setelah itu, kami kembali ke GIK dan mengerjakan apapun yang kami bisa. Mengetahui pengujiku berbeda dari teman-teman, entah kenapa aku jadi nggak bisa berpikir jernih. Kukerjakan dokumen dengan hati gelisah. Ingin nangis aja rasanya. Lalu aku curhat ke teh Ipeh, teteh mentorku. Menurutku, mengeluh memang tidak boleh, dan curhat hanya untuk mengeluh pun jangan, cukup keluhkan semua masalah kita sama Allah. Tapi, curhat sama manusia untuk mencari solusi tentu diperbolehkan, karena bisa saja Allah menitipkan solusi itu lewat orang-orang disekitar kita kan?
Alhamdulillah, setelah curhat sama teh Ipeh, sedikit lebih tenang dan semangat untuk terus maju.
Namun, karena persyaratan yang belum lengkap, aku memutuskan untuk konsultasi terlebih dahulu dengan dosen pembimbingku, pak Herbert. Awalnya beliau bilang ‘Parah sih kalau belum selesai dokumen mah’, dan awalnya beliau menyarankan mundur saja. Namun selang beberapa detik, beliau berubah pikiran ‘Eh tapi nggak apa-apa coba dulu saja. Kalaupun gagal ya paling diulang, paling tidak kalian sudah lewat fase itu’. Baiklah. Aku akan maju. Dari sana, mulai bikin ppt sedikit-sedikit.

Waktu menunjukkan pukul 1 kurang 15 menit, jadwal prasidangku jam 3 sore, tiba-tiba dapat undangan yang kedua kalinya untuk briefing. Undangan pertama sebenarnya jam 11, timku juga sudah hadir, namun karena baru ada 2 orang dan briefing tak kunjung mulai, kami kembali ke GIK untuk menemui pak Herbert. Dan ternyata, briefing kedua dilakukan karena briefing pertama hanya dihadiri oleh 2 orang saja.
Kami segera hadir di ruang briefing. Suasana sedikit tegang. Dosen-dosen cukup kecewa karena undangan sebelumnya diabaikan oleh mahasiswa. Di sana, pak Eddy menegaskan kembali bahwa syarat prasidang ada 3 yaitu draft skripsi, dokumen teknis, serta jurnal. Tidak ada belas kasihan dan sebagainya. Lebih baik mundur jika belum siap karena prasidang bukan hal yang main-main. Aku kembali ragu untuk maju, qadarullah pemimpin briefing adalah dosen pengujiku, dan beliau sudah jelas mengatakan syarat yang harus dipenuhi.

Akhirnya kuputuskan untuk mundur. Dan entah kenapa Izal juga ikut mundur, mungkin karena belum siap. Dua temanku Vini dan bang Reggy tetap maju. Tidak masalah buatku, karena aku pun akan tetap maju jika di posisi mereka. Setiap dosen penguji punya pandangan yang berbeda tentunya, begitu juga soal persyaratan yang harus dipenuhi, sebagian memberi toleransi, sebagian tidak.
Sangat berat rasanya ketika mengundurkan diri. Dua jam menjelang jadwal prasidangku, aku malah mundur dan rasanya perjuangan beberapa hari kemarin tidak terbayarkan. Itulah yang saat itu aku rasakan. Namun sebenarnya aku yakin, nggak ada hal yang sia-sia.
Setelah itu aku dan Izal sepakat untuk jadi supporter utama Vini dan Bang Reggy. Sebisa mungkin kami memperbaiki slide presentasi mereka, sementara mereka pergi ke bawah untuk print dokumen-dokumen. Entah kenapa, meski saat itu jujur aku sangat sedih, tapi aku nggak mau teman-teman satu timku  gagal. Mungkin karena sudah beberapa bulan berjuang bersama, aku nggak mau mereka merasakan hal yang sama. Kegagalan.


Hari itu, perasaanku tak menentu, kecewa, dan jadi lebih sensitif tentunya. Setiap ada yang mengeluhkan revisi, aku kesal. Mereka mengeluhkan revisi di depanku, yang gagal ikut prasidang ini, yang jelas-jelas ingin ada di posisi mereka. Aku merasa nggak ada yang mengerti perasaanku, harusnya mereka bersyukur. Aku juga selalu ingin menangis ketika melihat sepatu yang kupinjam dari Syifa untuk prasidang sudah kusiapkan di dalam tas. Juga ketika membayangkan wajah orang tuaku. Tapi semua itu kutahan saja. Aku hanya ingin terlihat bahwa aku baik-baik saja.
Saat itu, rasanya nggak ingin pulang. Kuputuskan untuk berdiam sejenak di sebuah tempat. Berdamai dengan diri sendiri. Menyembuhkan luka.

Pagi pun tiba. Sangat aneh rasanya nggak ada tuntutan untuk cepat-cepat menuju kampus. Saat yang lain sibuk dengan revisi, bimbingan, dan sebagainya, aku masih di tempat. Hampa.

Tapi, setelah berdamai dengan diri sendiri , aku menemukan banyak jawaban. Mungkin, ini adalah sebuah ujian kepasrahan. Selama mentoring, aku selalu diajarkan untuk mengambil hikmah dari setiap kejadian, tidak mudah mengeluh, dan berprasangka baik kepada Allah. Beberapa hal sudah kulalui, dan mungkin ini adalah ujian dengan tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Kegagalan dan kekecewaan. Pahit memang kelihatannya, tapi mungkin Allah sedang menguji seberapa sabar dan kuat diri ini. Dan, ujian itu nggak akan melebihi batas kemampuanku kok. Seketika semangat yang sempat hilang itu hadir kembali. Aku sangat bersyukur dan merasa Allah sangat menyayangiku. Aku juga yakin banyak hal yang nggak aku ketahui, dan tugasku hanya berusaha serta berprasangka baik. Setelah ini, aku bertekad untuk jadi orang yang lebih positif lagi. Semoga aku bisa ya.

Oh iya, semangat untuk teman-temanku yang sebentar lagi menghadapi sidang. Pesanku, berusaha semaksimal mungkin dan serahkan sisanya pada Allah. Aku juga mau berterima kasih pada teman-teman satu tim yang selama ini berjuang bersama dalam keadaan apapun. Vini, bang Reg, Izal. Juga kepada Haikal yang sudah mau membantu, serta Galih dan Misdan yang juga melaju ke sidang.
I’m moving up. Tunggu aku di sidang Januari.