Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Perlahan

Semakin dekat dan siap dan yakin dan pasrah.

Selingan

Tiap kepala sibuk dengan hp masing-masing. Laptop yang masih menyala hanya sebatas formalitas. Dua puluh empat menit menuju jam pulang sekaligus tanda berawalnya akhir pekan membuat jiwa-jiwa sang pemilik kepala berhamburan ke cakrawala. Here we are, para developer yang ngakunya gabut tapi ntar kelabakan di detik-detik terakhir. 
Hehe. Nggak deng, kita rajin kok ;)

Bagian Kedua

Hai, aku kembali, dengan cerita bagian kedua seperti yang kujanjikan. Selamat membaca!

Bumi berotasi setiap hari. Manusia juga. Aku juga. Ada banyak fase dalam kehidupan. Susah senang, sedih bahagia, tawa, dan luka. Kita tak bisa diam di tempat, mengamati setiap perubahan yang terjadi di sekeliling tanpa ikut terpengaruh barang sedikit. Tidak bergerak dan membiarkan semua terjadi sesuai keinginan. Tidak. Tidak seperti itu.

Manusia bertemu dan berpisah. Mendapatkan lalu kehilangan. Datang kemudian pergi.
Dalam perjalanan, aku mengalami berbagai peristiwa. Dua yang belum lama terjadi adalah tentang kedatangan, dan kepergian.
Seorang bayi laki-laki hadir, menambah daftar nama di keluarga besarku. Rasa bahagia kami turut lahir bersamanya. Tingkahnya yang menggemaskan membuat kami jatuh hati berulang kali. Perjuangan kedua orang tuanya -kakak sepupuku dan suaminya- mengingatkanku akan cinta tanpa syarat yang kudapatkan dari kedua orang tuaku selama ini. Selamat datang, adik kecil.

Beberapa …

Bagian Pertama

Beberapa hari yang kujanjikan di post berjudul 'Prolog' pada akhirnya mundur sebegitu jauh sampai dapat dikonversi menjadi hitungan bulan. Entahlah, ke-hectic-an rasanya tidak pernah berlalu. Dan sekarang, kebingunganku bertambah seiring dengan datangnya peristiwa-peristiwa dalam hidup yang ingin kubagi.
Oke, bagian pertama ini akan kuawali dengan tempat di mana waktu paling banyak kuhabiskan, tempat yang kadang melukiskan tawa, namun juga menyisakan sejuta kejangaran tak berujung yang terbawa sampai alam mimpi. Kantor.

Iya, lingkungan kerja rupanya masih menjadi hal yang asing bagiku. Manajemen waktu, mengemban amanah, hingga menuntaskan hak dan kewajiban rupanya tak sesederhana yang tertera di halaman-halaman buku paket saat sekolah dulu. Tapi hidup adalah belajar. Maka, selama napas masih berhembus dan jantung masih berdetak, setiap hari aku akan belajar.

Sudah selama kurang lebih satu bulan -dan akan berlanjut hingga dua bulan ke depan-, aku dan tiga orang teman di kantor …

Dinding

Gambar
Satu (lagi), dari sekian banyak reminder di dinding kamar. Yang membuatku bangkit lagi, positif lagi, dalam keadaan sulit sekalipun.

Rids

Curhat ini itu soal revisi sudah berakhir. Ijazah sudah di tangan. Selamat riiiidddd. Entah harus bilang apa lagi. Seneng banget liat kamu pake toga, cantikkkk wkwkwkwk. Tapi kamu curang gak ngerasain jadi pengangguran dulu wkwk. Gakpapa deng, yang penting sekarang udah fulltime dan sekantor sama aku. Sedih juga gak bisa hadir langsung di wisudaan, gakpapa lah ya masih ada video call plus wifi gratisan di kantor. Heheheh.

Barakallahu fii ilmii~

Qerja'

Qerja lembur bagai quda'...
Sampai lupa 'orang tua...
Oh hati terasa durhaqa~

Oke stop, ini bukan iklan department store yang lagi hits itu, cuma gak bisa dipungkiri, lagunya terngiang terus haha.

Aku cuma mau cerita, dikit. Jadi, sekarang ini udah masuk bulan ketiga kerja. Dan belum sedikitpun cerita suka dukanya haha. Soon, pas libur deh, beneran.

Tapi, ada satu cerita. Jadi, bulan pertama kerja, aku keteteran di sana sini. Dari mulai cara baca mapping dari analis, bikin API, integrasi sama anak front end, bisnis proses, dan cara komunikasi sama tim -parah sih ini, entahlah, selalu pemalu banget setiap ketemu lingkungan baru- haha.
Sampai suatu hari aku memberanikan diri bilang ke manajer proyeknya kalo aku gak bisa ngejar dan butuh share knowledge dulu. Akhirnya, ditunjuklah seseorang buat ngajarin aku. Anak part time yang sedang berjuang menyusun tugas akhirnya, tapi suka kupaksa lembur demi kelangsungan karirku wkwk, becanda. Orangnya, hmmm lumayan ceplas ceplos sih, dan ke…
Gambar
Cie foto bareng lagi. Gak sampe setengahnya sih. Tapi lumayan lah. Da rindu mah gak tau waktu, kadang hinggap lagi bahkan setelah datang temu. Hem.

Majemuk

Gambar
2010 mempersatukan kita sebagai teman baru, yang dalam waktu singkat mendeklarasikan diri sebagai sahabat. 2011, kita memilih langkah yang berbeda, namun, perbedaan itu tak menghalangi kebersamaan. 2013, jarak berhasil memisahkan kita. Tapi sejatinya hati tak pernah benar-benar berpisah.
Tahun demi tahun berganti. Perasaan terhadap orang-orang dalam foto itu masih sama. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan untuk berjumpa. Dengan segala perbedaan, -agama, pendapat, pekerjaan, masalah yang dihadapi- kita masih bisa saling menghargai.

2018, berbagai cerita tertuang dalam satu meja. Pengalaman ke luar negeri, persediaan batubara di Indonesia, penyebab turunnya nilai rupiah, perbedaan teknik informatika dan ilmu komputer, kapan harus minum obat serta vitamin, hingga cara mengatasi rindu terhadap seseorang. Haha.

Aku sendiri tak mengerti mengapa kita bisa se-langgeng ini. Semoga masih bisa selalu bersama dengan segala kemajemukan, dan masih bisa berkumpul hingga membawa keluarga masing-m…

Prolog

Gagal sidang, kemudian nyaris gagal untuk kedua kalinya, tentu bukan hal yang mudah. Lelah dan panik setengah mati bukan alasan untuk tak mengulang wawancara di malam sebelum sidang. Namun, keajaiban bisa terjadi kapan saja. Tangis putus asa di h-16 jam sidang, berganti jadi sujud syukur dari lantai 2 gedung FPMIPA pada 24 Januari 2018. Beberapa waktu setelahnya, kedua orang tua serta adikku mendampingiku menghadiri wisuda.
Detik berganti, euforia berlalu. Hari-hari selanjutnya kujalani dengan rutinitas baru, yaitu sebagai pencari pekerjaan. Berbagai pengalaman datang menghampiri. 'Manusia sebagai makhluk individu' yang dulu kupelajari sangat terasa pada fase ini. Diam di zona nyaman atau melompat ke luar jadi pilihan. Alhamdulillah, setelah kurang lebih satu bulan, aku diterima di sebuah perusahaan, tepat di usiaku yang ke 22.
Perjuangan tak berhenti sampai di sini. Adaptasi rupanya menjadi hal yang sangat sulit bagiku. Entah apa yang salah, tapi aku merasa begitu lambat dala…

Cerita lama

Gambar
Biar aksara yang bercerita. Bahwa aku pernah begitu bersemangat, pernah begitu bahagia, juga begitu kuat meyakini mimpi-mimpi yang kubangun.

Kemudian, suatu saat aku merasa gagal dan sedih. Dan kembali, cerita-cerita itu yang membantuku bangkit.
Terima kasih banyak, jangan lupa bersyukur. Untuk Nada.
“Di antara kebahagiaan manusia adalah menentukan pilihannya dengan Allah dan di antara kebahagiaan manusia adalah keridhoannya pada apa yang Allah tentukan. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah ia meninggalkan Allah dalam pilihannya. Dan di antara tanda kesengsaraan manusia adalah kemarahannya pada apa yang Allah tetapkan atas dirinya”.
(HR. Imam Ahmad)

Fase

Tiap manusia pasti bakal melewati banyak fase di kehidupan mereka. Fase-fase itu kayak anak tangga, harus ditapaki semua. Kalo dilewat satu, mungkin masih bisa, sulit tapi, dan bakal capek kalo terus-terusan. Kalo dilewat dua, entahlah, mungkin bisa, tapi kemungkinan bakal jatuh. Tiga? Kurasa nggak bisa.

Iya gitu Nad?
Gak tau juga sih. Paling enggak itu yang aku rasain sekarang.

Kadang, pikiranku melompat jauh ke 6 sampai 7 anak tangga di hadapanku, dan menerka-nerka bagaimana bahagianya berada di sana. Tapi, sehebat apapun berkhayal, nyatanya posisiku masih di sini. Di tempat yang sama. Tak bisa tau-tau *tring!*, berpindah ke atas sana. Dan lagi, tentu akan berbeda rasanya antara 'tiba-tiba' berada di atas dengan menapaki satu persatu anak tangga.

Iya gitu Nad?
Gak tau juga sih. Ini filosofi yang kudapatkan selama masa skripsi plus ketika naik ke loteng buat ngejemur baju kemarin pagi.

Udah.

Kangen

Gambar
Anggap ini sekuel postingan panjang yang berjudul 'Gagal Maju Sidang?' kemarin. Jadi setelah cerita itu, sepuluh hari pun berlalu. Hari menegangkan itu tiba. Sidang.
Aku bukan satu dari empat nama yang maju sidang, tapi kenapa aku ikut tegang, takut, rusuh, dan segala macem ya? Atau aku yang terlalu sok sibuk ngurusin urusan mereka wkwk entahlah. Yang jelas yudisium tak berlalu begitu saja seperti yang lalu-lalu, ada rasa haru dan bangga yang entah kenapa lebih kuat di yudisium kali ini meskipun bukan aku yang bertambah gelar. Mungkin karena ada dua teman timku -Vini, bang Reggy- yang berhasil dan aku tau perjuangan mereka. Juga ada Galih yang selama ini pol polan bantuin timku, dan Misdan yang juga sering ikut nongkrong di pojok Perancis C2 Camp hahaha.
Setelah itu perasaanku normal kembali sampai postingan bang Reg terbit di blognya yang cihuy. Nih kalo mau baca: Desember, Terima Kasih, Semoga Bertemu Lagi. Postingan itu membawa kembali memoriku, memotong-motongnya, dan memb…
Halo kopi!