Laman

Minggu, 27 Desember 2009

NGALIWET. Kiarapayung 261209

Latihan Sabtu kali ini diadakan di Kiarapayung, Jatinangor. Temanya belajar membuat 'nasi liwet'.

Pagi itu aku dan Nalla pergi bersama(Esti tidak ikut karena kebanjiran, monica jg tidak bisa hadir). Kami sampai di 13 pukul 06.06, terlambat 6 menit dari waktu yang ditentukan. Karena terjebak banjir, dan sebagainya. Ternyata masih ada yang belum datang. Karena sudah cukup lama menunggu dan masih ada juga yang belum datang, upacara pun dimulai pukul 06.19. Saat upacara berlangsung, Widya dan Tio datang.


Kami berbanjar sesuai regu setelah upacara selesai. Teh Santi memanggil para ketua regu. Kami diperintahkan untuk memasukkan semua barang ke tas, tidak menenteng apapun, dan semua harus sudah sarapan. Kami akan berangkat sendiri (tidak dengan pembina). Sambil menunggu beberapa orang sarapan, kami membicarakan tentang kendaraan yang akan kami gunakan, dan kami sepakat untuk menggunakan bis Damri.


Tidak lama, semua pun siap. Kami langsung berangkat dan menunggu Damri di depan PH. Sekitar 20 menit menunggu, dari kejauhan terlihat bis, dan setelah dekat ternyata itu bis Damri AC jurusan Dipatiukur-Jatinangor. Kami naik dan mengambil tempat masing-masing. Tidak lupa, kami juga membayar ongkos sebesar Rp. 4000,00 pada kenek yg menagihi kami. Saat itu saya merasa setelah kami naik, bis menjadi sangat ribut meskipun saya sendiri tidak berbicara. Perjalanan cukup lama, sehingga ada yang tidur, main hp, ngobrol. Sedangkan saya diam dan mendengarkan G7 yg putri mengobrol. Mereka membicarakan 'KT' yang awalnya saya juga tidak tahu siapa 'KT' yg mereka maksud. Tapi akhirnya saya tahu karena mereka berkali-kali melihat pada orang yg mereka bicarakan tersebut.


Tidak terasa, kami sampai di Jatinangor. Kami turun, lalu berbaris satu banjar dipimpin Widya. Aku paling depan dan Nala paling belakang (alasannya ngejagain katanya). Wawa yg sudah sering ke Kiarapayung berjalan di belakang saya dan menjadi penunjuk jalan. Beberapa meter berjalan, barisan masih teratur. Tapi semakin jauh, ternyata sudah berantakan. Nalla dan Encep tertinggal jauh di belakang, Ilman tertinggal cukup jauh, dan yg lain jalan berdua-berdua (harusnya sebanjar).

Kami berhenti sebentar, menunggu Ilman, Nala, dan Encep sampai. Lalu Widya yg kelihatannya sudah pusing mengatur kami merapikan barisan kembali. Nalla dan Encep dipindahkan ke paling depan, dan Ilman di tengah(kalau tidak salah).
Perjalanan dilanjutkan, dan seperti sebelumnya, setelah cukup jauh barisan kacau lagi. Widya pasrah dan akhirnya mengajak saya menyanyikan mars CMT meskipun pelan sambil ngos-ngosan.
Kami sudah setengah perjalanan atau lebih, saya juga tidak ingat. Semua sudah kelihatan lelah sekali. Apalagi Syara yg sampai terlihat seperti habis mandi, Widya sudah benar-benar kesal pada anak putra yang susah diatur. Hanif dan Farhayn entah bagaiman sudah berada jauh di depan. Tio dan Aji lari menyusul, lalu berhenti, lari lagi, lalu berhenti lagi. Widya pun berteriak, " Kalian ih ! Disuruh jalan malah lari, disuruh lari pasti pada jalan geura !". Lalu dia bilang lagi ke saya, "Ih, si Tio nge-sok pisan!"
Akhirnya Widya menyuruh kami berhenti dulu karena Ilman tertinggal jauh. Tapi Hanif dan Farhayn susah sekali dipanggil karena mereka sudah jauh. Nalla emosi dan berteriak, "Ibrahim Hanif.....Farhayn....SINI !!!". Awalnya mereka tidak mau karena mals balik lagi, tapi akhirnya mau karena dipaksa.
Dengan sedikit kesal, Widya berhasil membariskan kami(bukan aku lo yg susah diaturnya !). Namun, saat akan melanjutkan perjalanan tiba-tiba seorang G7putra yg berbaris agak belakang bertanya, "Teh boleh pake sendal? Lecet euy..". Semua melihat ke arahnya dan sepatunya. Ternyata Farhayn. Nalla yang sudah capek saja sampai ngakak dan terbungkuk-bungkuk. " Yaudah deh, boleh..", jawab widya sambil agak bingung.
Perjalanan dilanjutkan. Jarak kami sekitar 1km lagi. Tiba-tiba terdengar suara truk dari belakang. Kami tambah senang saat truk itu berhenti, ada Teh Santi dan Kang Braja, juga beberapa anak yg kelihatannya akan camping di Kiarapayung. Kami naik ke truk tersebut(videonya bisa dilihat di http://www.facebook.com/home.php?#!/video/video.php?v=106423799368638). Alhamdulillah.. sampai juga, kami berjalan sedikit lagi dan sampai di sebuah bangunan. Di depannya ada batu besar, nama bangunannya 'Lemdikada'. Di sana kami duduk2 dulu sebentar lalu kami harus mengikuti kang Braja ke tempat Ngaliwet.
Kami menempuh perjalanan dengan lari. Bukan sengaja, tapi memang jalannya licin dan menurun.

Kami sampai di tempat ngaliwetnya. Di sana ada yang sedang berkegiatan juga. Kami mengambil tempat perregu. Kami pun mulai ngaliwet. Saya dan putri mengambil air keatas untuk mencuci beras, bertemu dua orang kumel(kuncup melati), airnya dingin. Kami kembali ke bawah, menambahkan air, memasak. Di regu kami tidak ada yang ahli masak, untung ada putri, dia masaknya lumayan, jadi nasinya tidak seburuk kalau aku yang masak. Setelah nasi setengah matang, kami memasukkan bumbu yg sudah kami siapkan. Harum.. tapi aku terus-terusan mengambili abon yg sebenarnya untuk dimakan bersama nasi nanti, aku baru berhenti saat Nala mengancam jatah abonku dikurangi. Nasi regu kami pun matang, harumnya membuat kami ingin makan duluan, akhirnya kami makan sedikit nasi itu, sambil dicoba.. dan ternyata enak. Setelah itu kami melihat Kang Raihan, Kang Dega, dan kang Tia datang, dan menghampiri tempat teh Santi. Mereka baru mengujikan SKU Terap, berjalan 2 hari. Encep mengunjungi kami.
"Teh..pinjem piring",katanya. "Dipake semua",jawab kami. Dia menuju kumel, disana wawa sedang memainkan balon yg ia bawa, salah satu anggota regu saya berkata, "ngeliat wawa sama Encep kayak ngeliat kang----- sama teh---- ya?". hahahaha......

Saat yang ditunggu tiba, semua selesai memasak. Kami berkumpul, sebenarnya baru boleh makan setelah adzan dzuhur. Tapi karena semua sudah lapar dan mukanya pada memelas, jadi kami diperbolehkan makan. Rasanya puas sekali, apalagi setelah berjuang masak. Reguku lauknya telor asin dan abon, teh Santi mengomentari telur asin yg kami bawa, katanya tidak seenak kalau belinya yg satuan. Kami juga memasak telur tanpa minyak, tapi memakai daun pisang, panci yg aku bawa langsung gosong, malah plastik tempat menyimpan barang dalam tasku juga terbakar karena tidak hati-hati.

Setelah itu kami sholat. Kumel dan MP yg sudah pergi duluan ke masjid yg berada di atas meninggalkan barangnya berantakan dan tidak ada yang menjaga. Jadi barang mereka ada yang disembunyikan.

Setelah kami sholat dan melewatkan beberapa kejadian yg membuat regu saya tertawa (hanya Edelweiss yg tahu), kami berkumpul. Kang Braja menyuruh kami mengecek barang bawaan dan ternyata matras Tio ketinggalan. Tio mencari tapi tdk berhasil, MP dipanggil oleh kang Braja. Mereka mencari matras Tio dan akhirnya mereka menemukannya di dekat wc.


Kami melanjutkan perjalanan ke sebuah tempat yg kabarnya dulu bekas halang rintang. Di sana kami main games. Ada yang lucu lagi (hanya Edelweiss lg yg tahu). Teh Santi menyuruh kami berhenti saat games tersebut sedang asik-asiknya. Yaaah.. kami melanjutkan perjalanan pulang dengan berjalan lagi. Jalan kami sekarang menjadi cepat karena jalanan yg kami lalui menurun. Awalnya sih aku jalan agak depan sama Putri. Tapi setelah teh Santi menyusul, aku jalannya sama Teh Santi dan kadang-kadang berlari. Aku dan Teh Santi berlari menyusul kumel yg berjalan di depan, mereka menyusul kami lagi, akhirnya kami saling menyusul. Teh Santi bilang,
"darah pada turun semua nih". Aku tidak mengerti, namun diam sebentar dan mengatakan "Oh..", sambil mikir. Kami terus berjalan dan teh Santi bilang sudah dekat ke tempat kami akan beristirahat. Saat itu aku dan teh Santi menuruti gaya berjalannya kang Braja yg cukup unik, aku sampai jatuh dua kali garagaranya.
Kami sampai di sebuah tempat. Di tempat itu ada menara, menurut cerita kang Braja, dulu setiap ada eksekusi bel di menara tersebut dibunyikan, dan mayat-mayatnya dibuang ke Kiarapayung, tempat kami tadi. (waw serem)
hah.. perjalanan tinggal sedikit lagi. Sekarang aku jalan bersama Nala dan Widya. Mereka menyanyikan lagu yg ada di iklan AdemSari, lama-lama aku juga ikutan nyanyi. (sakit tenggorokan dan sariawan, itu bersifat panas.....ademkan adem sari)
Kami berkumpul, dan yg akan langsung pulang memisahkan diri. Aku, Nala, dan Tio akan pulang naik angkot saja karena rumah kami dekat, kang Raihan juga, tp naik angkot yang berbeda. Sedangkan yang lain akan naik bis lagi menuju 13. Kami pun berpisah dan berjalan sesuai tujuan masing-masing.

Di angkot ake memperhatikan tanganku. Oh.. baru deh aku ngerti darah turun yg dimaksud teh Santi itu.


best moment of 2009


------------

Sabtu, 19 Desember 2009

wide games .


Aku sama Nala janjian di rumahku terus langsung chaw ke smpn 13 buat ikut Latihan Jumat, yaitu mencari jejak sangkuriang. Sampai di sana, udah ada anggota regu Edelweiss yg lain, Monica. Ada juga beberapa orang G10, G7, dan G8.
Selesai masang tiang bendera, aku nyiapin upacara yang udah agak lama telat, dan pas upacara selesai, kita disuruh sama pembina buat bawa barang-barang kita dari sanggar dan baris perregu. Nah, para penegak sama G10nya udah ngga keliatan di sanggar, pada kemana yaaa?
Semua anggota regu berbanjar sesuai regu di ujung lapang (depan masjid smpn13), tapi pemimpin regunya pergi ke sanggar supaya dapet petunjuk pertama dari teh Santi. Putri gabung sama Melati dan Tio gabung sama MP. Kita nunggu bentar, terus ngga lama kemudian Aji dateng. Dia ngasih tau petunjuk pertama ke regunya, keras-keras lagi, otomatis regu yg lain tahu juga (padahal gak boleh) terus mereka pergi paling pertama. Nggak lama Monica sama Wawa jg nyusul, Wawa ngasih tau petunjuk itu ke regunya, tapi bisik-bisik, Monica jg ngasih tau k
ita dan tentunya gak kedengeran sama regu Melati dong !
Reguku dapet petunjuk seperti ini :”Kemarin Sangkuriang terlihat bersama hewan yang kaya raya.”
Kami awalnya mikir itu nama jalan sekeliling 13. Mutiara, tiram, tapi kurang yakin soalnya itu hewan laut, akhirnya kami yakin Beruang, dan langsung menuju jalan Beruang. Di sana ada sepedah, tanda-tanda keberadaan Kang Raihan dan Kang Adit, tapi orangnya ga ada. Dan ternyata mereka ada di atas pohon.Beres lapor, kami harus mengukur tinggi tiang listrik, ngebidik tiang listrik dari bangku pake kompas sangat kuno yg kami sendiri belum tahu cara pakenya. Selesai itu, kami diberi petunjuk lain :”Sangkuriang pernah ke tempat ini, gunung yang berdiri gagah di Bandung Selatan, penuh dengan misteri, terkenal dengan kawah putih.”
Diamlah kami di belakang gardu listrik sekalian istirahat, Nala membuka Google (jaman modern) dan sambil nunggu loading kami berpikir. Akhirnya kami yakin deh gunung Patuha yg petunjuk itu maksud, pergilah kami ke sana. Bukan ke gunung Patuha, tapi ke jalan Patuha yg ada di daerah Telaga Bodas. Kami ke sana naik angkot, soalnya takut kelamaan dijalan.(di pengumuman tertulis : ongkos secukupnya. Berarti kami boleh naik angkot kan?).
Sesampainya di pos yg ada di jalan Patuha, kami ketemu kang Tia sama kang Dega yg jaga di pos itu. Juga ada Melati yg sudah duluan sampai di sana karena itu memang pos pertama mereka. Regu saya hrs membuat drakbar utk mendapatkan petunjuk berikutnya. Masalahnya, kami cuman bawa tiga tongkat (tiap org satu). akhirnya kepaksa deh pake tali yg kami bawa buat mengganti tongkat terakhir. Lima menit menyiapkan alat, 10 menit membuatnya, dan kami selesai. Untuk memastikan drakbar yg kami buat kuat, aku jadi kelinci percobaan, gara-gara badan paling kecil. huh kasian amat :( (naik dan diangkut bulak balik lapangan di jalan Patuha tersebut). Setelah dinyatakan kuat, kami diberi petunjuk :”budak leutik bisa ngapung.. babaku ngapungna peuting.. dst.”
Kami langsung tahu bahwa itu pupuh Kinanti, baru jalan sedikit, kang Tia memanggil kami dan bilang bahwa monica harus ke 13 dulu untuk remed bahasa Sunda.
Tinggal berdua deh aku sama Nala, kami langsung saja pergi ke jalan Kinanti, yg kami juga sudah tahu dimana. Kami berjalan sampai ujung jalan Kinanti, dan barulah di sana bertemu dgn teh Widi juga teh Risfa. Kami diberi waktu 10 menit utk memecahkan sandi rumput, kotak, and, dan beberapa sandi lain. Dan setelah selesai, isi sandi tersebut :”Sangkuriang berada di kaki gunung seminggu yg lalu, dia sedang makan makanan tradisional, sekarang tugas adik-adik adalah mencari makanan tradisional untuk diberikan pada sangkuriang. GOOD LUCK”
(nah, saat itu Monica ygh sudah sampai di sekolah menghubungi nomorku, tp ngga keangkat, jd dia bertanya pada kang Eka yg berada di 13, “Kang, Nada sama Nala ada dimana ya?” kang Eka bertanya lg ,”Tadi pos terakhir apa?” “Kinanti”,kata Monica “Oh..berarti selanjutnya Berlian di daerah buahbatu dlm”, kata kang Eka. Monica menelponku dan kali ini diangkat, aku bilang aku sama Nala msh di Kinanti dan belum mendapat petunjuk lg, tp dia sudah terlanjur tahu jawaban terakhir dari kang Eka, dan jawabannya adalah Berlian.)
Monica menyusul ke jalan Kinanti dan kami tdk memberi tahu siapapun bahwa kami sudah mendapatkan jawaban terakhir saat itu. Dan akhirnya kami diberi petunjuk :”Batu paling keras di muka bumi ini.”
Kami yg sudah tahu jawabannya langsung menuju jalan Berlian di daerah buah batuh dalam. Di perjalanan kami bertemu MP, mereka baru selesai pos pertama dan akan break untuk jumatan dulu. Sesampainya di pos Berlian yg ternyata adalah pos terakhir yg dijaga oleh teh Ila dan teh Vidha, kami harus memunguti sampah sebanyak 20 item, kami juga tes KIM (kemampuan indera melihat, mencium, meraba, merasa, dan mendengar) tapi yg dites hanya melihat dan mencium bau.
Kami berhasil mengingat 21 benda yg kami lihat, dan dua benda yg dijawab benar dr tiga benda yg kami cium. Setelah itu petunjuknya :”kembali ke tempat asal Sangkuriang.”
Tidak salah lagi.. Sanggar !
Kami sampai di sanggar, perintah terakhir adalah membuat peta perjalanan. Selesai, dengan sedikit kesalahan yaitu letak jalan buahbatu. Tinggal menunggu regu lain yang kabarnya tersesat dulu. Setelah semua datang, kami evaluasi dan langsung ditutup dengan upacara penutupan. Tidak lupa memberikan makanan tradisional berupa beberapa comro yg kami beli di jalan pada sangkuriang. Ternyata Sangkuriangnya dalah kang Braja.
Regu yg tidak terlalu bagus MP, yg sedang-sedang saja Melati, dan yg lumayan Edelweiss ;) (karena memang Edelweiss G9)
Sebelum pulang, sementara yg lain bermain UNO saya dan Nala belajar menggunakan kompas kuno yg sempat menyesatkan kami saat membidik tiang listrik. Saya jg belajar cara benar mengukur tinggi dan lebar. Semoga kami dapat belajar banyak hari itu.

Senin, 30 Maret 2009

kanita nada hasya

290396 .
tanggal yg sangat berarti buat saya, meskipun saya juga ngga inget tangisan pertama saya, saat-saat pertama saya melihat dunia, tapi saya sangat bersyukur dapat lahir di tanggal tersebut dan tumbuh besar seperti layaknya anak2 lain. Saya bersyukuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuur, saya punya teman-teman yg baik, punya sejuta kreativitas dan keanehan-keanehan.

Hidup saya penuh dgn nulis dan ketawa. Kalo lg seneng ya ketawa, tp kalo bete, saya lebih pilih nulis daripada harus marah-marah ngga jelas ya ga?

hahaha yg jelas I love my self bangetlah, semoga dengan banyaknya kekurangan yg saya miliki, saya bisa jd orang yg terrrrrbaik :') amin

Thanks god .