Halaman

Sabtu, 19 Desember 2009

wide games .


Aku sama Nala janjian di rumahku terus langsung chaw ke smpn 13 buat ikut Latihan Jumat, yaitu mencari jejak sangkuriang. Sampai di sana, udah ada anggota regu Edelweiss yg lain, Monica. Ada juga beberapa orang G10, G7, dan G8.
Selesai masang tiang bendera, aku nyiapin upacara yang udah agak lama telat, dan pas upacara selesai, kita disuruh sama pembina buat bawa barang-barang kita dari sanggar dan baris perregu. Nah, para penegak sama G10nya udah ngga keliatan di sanggar, pada kemana yaaa?
Semua anggota regu berbanjar sesuai regu di ujung lapang (depan masjid smpn13), tapi pemimpin regunya pergi ke sanggar supaya dapet petunjuk pertama dari teh Santi. Putri gabung sama Melati dan Tio gabung sama MP. Kita nunggu bentar, terus ngga lama kemudian Aji dateng. Dia ngasih tau petunjuk pertama ke regunya, keras-keras lagi, otomatis regu yg lain tahu juga (padahal gak boleh) terus mereka pergi paling pertama. Nggak lama Monica sama Wawa jg nyusul, Wawa ngasih tau petunjuk itu ke regunya, tapi bisik-bisik, Monica jg ngasih tau k
ita dan tentunya gak kedengeran sama regu Melati dong !
Reguku dapet petunjuk seperti ini :”Kemarin Sangkuriang terlihat bersama hewan yang kaya raya.”
Kami awalnya mikir itu nama jalan sekeliling 13. Mutiara, tiram, tapi kurang yakin soalnya itu hewan laut, akhirnya kami yakin Beruang, dan langsung menuju jalan Beruang. Di sana ada sepedah, tanda-tanda keberadaan Kang Raihan dan Kang Adit, tapi orangnya ga ada. Dan ternyata mereka ada di atas pohon.Beres lapor, kami harus mengukur tinggi tiang listrik, ngebidik tiang listrik dari bangku pake kompas sangat kuno yg kami sendiri belum tahu cara pakenya. Selesai itu, kami diberi petunjuk lain :”Sangkuriang pernah ke tempat ini, gunung yang berdiri gagah di Bandung Selatan, penuh dengan misteri, terkenal dengan kawah putih.”
Diamlah kami di belakang gardu listrik sekalian istirahat, Nala membuka Google (jaman modern) dan sambil nunggu loading kami berpikir. Akhirnya kami yakin deh gunung Patuha yg petunjuk itu maksud, pergilah kami ke sana. Bukan ke gunung Patuha, tapi ke jalan Patuha yg ada di daerah Telaga Bodas. Kami ke sana naik angkot, soalnya takut kelamaan dijalan.(di pengumuman tertulis : ongkos secukupnya. Berarti kami boleh naik angkot kan?).
Sesampainya di pos yg ada di jalan Patuha, kami ketemu kang Tia sama kang Dega yg jaga di pos itu. Juga ada Melati yg sudah duluan sampai di sana karena itu memang pos pertama mereka. Regu saya hrs membuat drakbar utk mendapatkan petunjuk berikutnya. Masalahnya, kami cuman bawa tiga tongkat (tiap org satu). akhirnya kepaksa deh pake tali yg kami bawa buat mengganti tongkat terakhir. Lima menit menyiapkan alat, 10 menit membuatnya, dan kami selesai. Untuk memastikan drakbar yg kami buat kuat, aku jadi kelinci percobaan, gara-gara badan paling kecil. huh kasian amat :( (naik dan diangkut bulak balik lapangan di jalan Patuha tersebut). Setelah dinyatakan kuat, kami diberi petunjuk :”budak leutik bisa ngapung.. babaku ngapungna peuting.. dst.”
Kami langsung tahu bahwa itu pupuh Kinanti, baru jalan sedikit, kang Tia memanggil kami dan bilang bahwa monica harus ke 13 dulu untuk remed bahasa Sunda.
Tinggal berdua deh aku sama Nala, kami langsung saja pergi ke jalan Kinanti, yg kami juga sudah tahu dimana. Kami berjalan sampai ujung jalan Kinanti, dan barulah di sana bertemu dgn teh Widi juga teh Risfa. Kami diberi waktu 10 menit utk memecahkan sandi rumput, kotak, and, dan beberapa sandi lain. Dan setelah selesai, isi sandi tersebut :”Sangkuriang berada di kaki gunung seminggu yg lalu, dia sedang makan makanan tradisional, sekarang tugas adik-adik adalah mencari makanan tradisional untuk diberikan pada sangkuriang. GOOD LUCK”
(nah, saat itu Monica ygh sudah sampai di sekolah menghubungi nomorku, tp ngga keangkat, jd dia bertanya pada kang Eka yg berada di 13, “Kang, Nada sama Nala ada dimana ya?” kang Eka bertanya lg ,”Tadi pos terakhir apa?” “Kinanti”,kata Monica “Oh..berarti selanjutnya Berlian di daerah buahbatu dlm”, kata kang Eka. Monica menelponku dan kali ini diangkat, aku bilang aku sama Nala msh di Kinanti dan belum mendapat petunjuk lg, tp dia sudah terlanjur tahu jawaban terakhir dari kang Eka, dan jawabannya adalah Berlian.)
Monica menyusul ke jalan Kinanti dan kami tdk memberi tahu siapapun bahwa kami sudah mendapatkan jawaban terakhir saat itu. Dan akhirnya kami diberi petunjuk :”Batu paling keras di muka bumi ini.”
Kami yg sudah tahu jawabannya langsung menuju jalan Berlian di daerah buah batuh dalam. Di perjalanan kami bertemu MP, mereka baru selesai pos pertama dan akan break untuk jumatan dulu. Sesampainya di pos Berlian yg ternyata adalah pos terakhir yg dijaga oleh teh Ila dan teh Vidha, kami harus memunguti sampah sebanyak 20 item, kami juga tes KIM (kemampuan indera melihat, mencium, meraba, merasa, dan mendengar) tapi yg dites hanya melihat dan mencium bau.
Kami berhasil mengingat 21 benda yg kami lihat, dan dua benda yg dijawab benar dr tiga benda yg kami cium. Setelah itu petunjuknya :”kembali ke tempat asal Sangkuriang.”
Tidak salah lagi.. Sanggar !
Kami sampai di sanggar, perintah terakhir adalah membuat peta perjalanan. Selesai, dengan sedikit kesalahan yaitu letak jalan buahbatu. Tinggal menunggu regu lain yang kabarnya tersesat dulu. Setelah semua datang, kami evaluasi dan langsung ditutup dengan upacara penutupan. Tidak lupa memberikan makanan tradisional berupa beberapa comro yg kami beli di jalan pada sangkuriang. Ternyata Sangkuriangnya dalah kang Braja.
Regu yg tidak terlalu bagus MP, yg sedang-sedang saja Melati, dan yg lumayan Edelweiss ;) (karena memang Edelweiss G9)
Sebelum pulang, sementara yg lain bermain UNO saya dan Nala belajar menggunakan kompas kuno yg sempat menyesatkan kami saat membidik tiang listrik. Saya jg belajar cara benar mengukur tinggi dan lebar. Semoga kami dapat belajar banyak hari itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

komentar anda, semangat saya :)))