Laman

Selasa, 23 Oktober 2012

Di Balik Sebuah Buku


Sejenak kualihkan pandangan dari buku yang sedang kubaca. Pandanganku tepat jatuh di matanya, dan seperti magnet, tak dapat kulepaskan. Pandangannya mengisyaratkanku untuk tenang. Aku menghela nafas panjang kemudian mencoba kembali membaca. Namun gagal. Aku tak dapat kembali berkonsenterasi. Kuedarkan pandangan, berusaha melupakan senyumnya. Sepertinya berhasil. Ketika mataku kembali ke deretan huruf-huruf dalam buku itu, aku dapat membaca dan mengucapkannya dengan keras. Hingga akhirnya, kalimat terakhir pun selesai kubaca. Kini buku itu benar-benar tertutup dan turun dari hadapan daguku, seiring dengan riuhnya suara tepuk tangan teman-teman di ruangan itu. Dia memang sama sekali tak bertepuk tangan, namun senyum tulus itu sudah cukup untuk membuktikan semuanya.

15 komentar:

  1. Balasan
    1. kangenlah jet, ayo ketemuan...

      Hapus
    2. iyaaa kapan ya? ntar deh kalo udah ga sibuk, pingin main

      Hapus
  2. Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  3. @nadahasya

    emang Nada mah pantes di kepo-in,,pake bawa bawa Karima lagi ,,

    BalasHapus
  4. km ngefans sih sama aku jd ngepoin aku terus, lalalala~

    BalasHapus
  5. Balasan
    1. gatau deh namanya apa rid, yg penting maknanya ;)

      Hapus
  6. @rida
    sejenis puisi cinta ,buat seseorang Da

    BalasHapus

komentar anda, semangat saya :)))