Laman

Senin, 13 Mei 2013

Guru. Muliakah?


gambar dari [sini]
Pahlawan tanpa tanda jasa.
Semua orang tau siapa mereka. Pahlawan yang mengabdi untuk negara bukan dengan perlengkapan perang berupa peluru dan senapan, bukan juga dengan pakaian bercorak loreng-loreng hijau lengkap dengan tameng untuk melindungi mereka di medan pertempuran.

Hari ini memang tanggal13 Mei, udah lewat jauh dari Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Mei, masih sangat jauh juga dari Hari Guru yang diperingati setiap tanggal 25 November. Tapi, rasanya tak masalah mengutarakan semua unek-unek yang ada pada hari ini.

Berawal dari sebuah percakapan ringan dengan seorang sahabat. Tadinya kami sama sekali tidak membahas soal pendidikan. Kami hanya sedang berbagi cerita tentang keluarga. Kami berdua sama-sama memiliki seorang adik yang duduk di bangku kelas 6 SD, adik kami baru saja melaksanakan Ujian Nasional minggu lalu. Menurut informasi dari adik temanku itu, di sekolahnya siswa-siswi kelas 6 mendapatkan kunci jawaban dari guru mereka sendiri. Begini ceritanya...

Sebut saja nama sekolahnya SD Negeri Antah Berantah. Satu minggu sebelum UN berlangsung, seluruh siswa kelas 6 di SD tersebut diminta untuk mengumpulkan nomor handphone mereka pada wali kelas. Maklum, anak SD jaman sekarang udah pada punya hp, nggak kayak waktu aku SD dulu, sekalinya punya hp layarnya warna hitam-kuning, itu pun bekas ayah dan hanya bertahan 3 minggu, setelah itu rusak.
Di hari pertama UN, para siswa yang sudah memberikan nomor hp mereka pada wali kelas, mendapatkan sms berisi kunci jawaban. Adik temanku, kebetulan ia belum punya hp, jadi ia tidak mendapatkan kunci jawaban seperti teman-temannya yang lain. Ia hanya melihat, memperhatikan semua gerak-gerik teman-temannya dan menjadi saksi kejadian memilukan itu. Hmm, memilukan? Mungkin lebih tepatnya, memalukan.
Tentu saja memalukan. Akurat atau tidak, bukanlah pokok permasalahan dari kasus ini. Kalau akurat, yaaaah mereka akan lulus dengan nilai bagus, lalu daftar dan lolos ke SMP favorit yang mereka idamkan. Kalau ternyata kunci itu nggak akurat, mereka akan dapat nilai jelek. Pahit-pahitnya sih, paling juga nggak lulus dan harus mengulang satu tahun lagi.
Simple.
Tapi ada satu hal yang menjadi masalah besar di samping akurat atau tidaknya kunci jawaban tersebut.
Kejujuran.
Kasihan siswa-siswi SD Negeri Antah Berantah itu. Mereka yang masih polos dan imut-imut, pikirannya harus ternodai. Otaknya harus tercuci oleh suatu cara pandang yang salah.
Aku harus lulus dengan nilai bagus.
Aku harus masuk SMP Favorit.
Aku akan melakukan segala cara untuk mencapainya, tak peduli cara itu benar atau salah.
Semangat menggebu yang mereka miliki memang bagus. Bahkan luar biasa. Tapi mereka tak sadar bahwa mereka mengambil jalan yang salah.
Para guru yang seharusnya mengarahkan mereka, membimbing mereka, malah menuntun mereka melalui sebuah jalan pintas yang menyesatkan. Apa maksudnya semua ini? Didikan mereka hanya akan menjerumuskan. Menjerumuskan anak-anak itu dan bangsa ini.

Parahnya lagi, menurut sang narasumber –adik temanku- saat handphone milik salah satu temannya terjatuh, teman-teman yang lain berusaha membantu menutupinya. Mereka bekerja sama untuk mengalihkan perhatian sang pengawas yang berasal dari SD lain dan meyakinkan mereka bahwa tidak sedang terjadi kecurangan.
Berani sekali mereka, bersama-sama membodohi orang dewasa.
Siapa yang mendidik mereka menjadi seperti ini? Hmm...

Aku membayangkan, 15 tahun telah berlalu dan siswa-siswi SD Negeri Antah Berantah ini telah dewasa. Mereka duduk mengelilingi meja besar di sebuah bangunan megah. Berbicara dengan tegas dan yakin di hadapan atasan-atasan mereka. Membawa-bawa nama rakyat kecil (yang seharusnya mereka sampaikan aspirasinya) sebagai salah satu tipuan untuk mengantarkan mereka pada kekayaan. Setelah itu beberapa orang di antara mereka saling pandang, tersenyum licik. Puas karena berhasil membodohi atasan mereka atas kecurangan yang telah mereka lakukan dengan mulus.

Miris. Mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Bukan hanya aku, mungkin juga temanku, adiknya dan orang-orang di luar sana yang sangat memuliakan guru.
Perbuatan itu terlalu hina untuk seorang bergelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’ ini. Aku yakin, tidak semua guru melakukannya. Tapi sebagian kecil itu merusak citra guru. Mencoreng nama baik mereka. Mereka yang masih menjunjung tinggi kejujuran. Mereka yang berusaha menanamkan bekal kepada anak-anak penerus generasi bangsa bahwa segala sesuatu akan terwujud dengan usaha keras, kegigihan dan kejujuran.
Seekor kerbau berlumpur, semuanya berlabur.

Walau bagaimanapun, aku masih percaya dan akan terus percaya. Guru itu profesi yang sangat mulia. Tanpa mereka, tak akan ada dokter, penemu, peneliti, pencipta dan jutaan profesi lain yang selama ini selalu lebih diangungkan.

Bangkitlah, pahlawan tanpa tanda jasa. Lahirkan generasi cemerlang penerus Bangsa Indonesia!


gambar dari [sini]

Thanks to: RZR dan sang adik ;)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

komentar anda, semangat saya :)))