Halaman

Minggu, 24 Februari 2013

Happy Sunday!


Resensi Buku: Mukjizat Shalat Malam; Meraih Spiritual Rasulullah


1

   .       Identitas Buku
Judul Asli : Qiyam Al-Lail wa Al-Munajat ‘inda Al-Sahr
Pengarang : Sallamah Muhammad Abu Al-Kamal
Penerjemah : Irwan Kurniawan
Penyunting : Toto Edidarmo
Penerbit : Mizania
Tahun Terbit : 2006
Uraian Cetakan:- Cetakan I, Juli 2006/ Jumada Al-Tsaniyah 1427 H
                      - Cetakan III, Desember 2006/ Dzulhijjah 1427 H
                      - Cetakan IV, Januari 2007/ Dzulhijjah 1427 H
Ukuran Buku : 13 cm x 20,5 cm
Tebal/Jumlah Halaman : 268 halaman

2.     Gambaran Isi Buku
Bangun (shalat) malam dapat menebus kesalahan, mencerahkan hati dan pikiran, serta menghilangkan berbagai penyakit jasmani dan rohani. Dengan shalat malam, orang yang berdosa akan diterima tobat dan istighfarnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh pada malam hari ada satu waktu. Jika seorang Muslim memohon kebaikan kepada Allah agar diperbagus urusan dunia dan akhiratnya bertepatan dengan waktu tersebut, niscaya Dia akan memberinya. Waktu tersebut ada pada setiap malam.” Allah Swt. merahasiakan waktu tersebut kepada kita semata-mata agar kita memohon kepada-Nya pada seluruh waktu malam, sebagaimana Dia merahasiakan lailatul qadar kepada kita.
Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah - Muharram. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR. Muslim no. 1163, dari Abu Hurairah). Banyak kaum Muslim sudah tahu bahwa shalat tahajud sangat dianjurkan. Bahkan, Allah sendiri menyuruh Rasul-Nya untuk melakukan shalat ini sebagai ibadah utama yang akan mengangkat derajatnya ke tempat terpuji (QS Al-Isra’ [17]: 79). Namun, harus diakui, amat sedikit kaum Muslim yang mampu meneladani akhlak agung Rasulullah itu. Penyebabnya beragam. Ada yang kurang memahami keutamaannya, ada yang kurang disiplin dalam mengatur waktu, dan ada juga yang kurang merasakan manfaatnya secara konkret. Buku ini menyajikan bukan sekadar tata cara shalat malam, melainkan juga berbagai hikmah dan manfaatnya, kiat-kiat efektif agar mudah melakukannya, adab-adab yang mesti dijaga, serta kisah-kisah teladan yang memotivasi kita agar mampu menegakkan shalat malam dengan penuh gairah. Agar kita mampu merasakan kenikmatan beribadah dan berkomunikasi dengan Tuhan Yang Maha Kasih.

3.     Bahasa Buku
Gaya bahasa yang digunakan dalam buku ini sangat menarik. Indah, deskriptif, dan mengalir serta mampu membuat pembaca terbawa arus ke dalam kisah-kisah teladan shalat malam Rasulullah dan para sahabat. Buku ini juga memuat beberapa syair indah yang memberikan kesan tersendiri bagi para pembacanya, meskipun beberapa kata dalam syair ini diambil dari istilah bahasa Arab yang tidak semua orang memahaminya. Struktur kalimat yang digunakan juga sederhana sehingga pembaca mudah memahami maksud dari penulis. Namun, tetap tidak mengurangi keindahan bahasa dan diksi yang digunakan. Beberapa ungkapan juga diriwayatkan dari Al-Quran dan As-Sunnah dengan sumber yang dicantumkan jelas.

4.     Analisis Tinjauan Buku
Buku ini bukan hanya membahas mengenai tata cara shalat malam, melainkan juga manfaat dan hikmahnya, adab tidur dan bangun, doa-doa Rasulullah, serta kisah-kisah teladan Rasulullah dan para sahabat yang dapat menginspirasi kita semua. Bahasa yang mengalir membuat pembaca tidak akan merasa bosan dan jenuh, justru akan tertarik untuk terus melanjutkan membaca buku ini. Penulis menjelaskan pokok demi pokok bahasan dalam buku ini secara sistematis dan komunikatif, sehingga pembaca tidak merasa digurui ataupun merasa sedang membaca buku panduan. Penulis seolah-olah bercerita langsung mengenai shalat malam, juga kisah-kisah Rasulullah dan para sahabat yang teguh dalam prinsip mereka untuk tidak meninggalkan shalat malam. Kita akan dibuat kagum akan kisah-kisah teladan tersebut dan mengingat ibadah yang telah kita lakukan selama ini, tentu saja dengan perasaan ingin terus meningkatkannya. Penulis berhasil membuka hati dan pikiran para pembaca untuk terus beribadah kepada Sang Pencipta.

5.     Saran Untuk Dipertimbangkan Kepada Calon Pembaca
Sungguh shalat Malam merupakan puncak spiritualitas para Nabi dan Rasul yang layak kita teladani. Jika kita ingin meraih kemuliaan derajat mereka, selayaknya juga kita meneladani akhlak mereka. Buku ini bisa dijadikan teman pembimbing yang tepat untuk mencapai tujuan kita tersebut.

Kamis, 14 Februari 2013

DAFTAR TO! #L3M

Halo blogger
Hari ini, L3M bakal dimulai. Cerita pertama ini tentang try out STAN dan STIS yang kita ikuti beberapa waktu yang lalu. Kalau dibaca sekarang sih nggak terlalu seru. Tapi, mungkin cerita ini bakal jadi kenangan yang bisa bikin kita senyam-senyum sendiri bacanya nanti, mungkin pas udah lulus SMA, atau beberapa tahun lagi.... Jumat sore, karlin yang biasa dipanggil ‘nenek’ sama anak-anak kelas ngajak aku buat ikut try out STAN/STIS di GOR KONI hari minggu. “Mau ikut nggak Nad? Kalo mau kita daftar besok bareng-bareng...” kurang lebih gitu deh katanya. Aku langsung setuju.

Besoknya, Sabtu siang, kebetulan banget Bu Mimin –guru bahasa Indonesia- izin pulang karena ada acara. IPA 2 pun pulang setengah jam lebih awal. Aku, karlin, beta, penina, rida, dan pipit langsung caw keluar dari gerbang SMA tercinta. Sayang banget pipit udah daftar duluan, jadi dia misah deh sama kita, pulang. Sayang banget pit, kau melewatkan semuanya, hahaha. Yaaaa singkat cerita kita udah naik angkot. Alhamdulillah banget, ujan baru turun pas kita udah di dalem angkot. Seperti biasa lah, kita ngobrol dengan sejuta topik dan membuat perjalanan menggunakan angkot menjadi lebih berwarna! -_-
Tapi, belum lama kita bercengkrama, masuklah tiga orang pemuda yang ketiganya memakai kemeja kotak-kotak! Kalau kalian pikir itu anak buahnya Pak Jokowi, kalian salah besar! Sebenernya sih, kita juga nggak tau siapa mereka, buat apa juga kan kita tau. Tapi yang bikin kita ingin tau, mereka itu sikapnya aneh banget. Ini dia keanehan mereka:
1. Ketiganya pake celana jeans dan kemeja kotak-kotak
2. Ketiganya menggenggam satu bungkus rokok dan korek api yang kelihatannya baru dibeli, masih utuh
3. Mereka itu ngeliatin kita tepat di mata kita dengan tatapan aneh
Aaaah. Aku emang nggak bakat ngejelasin gimana menyeramkannya ketiga orang itu, tapi ini serius kawan! Mereka emang nyeremin banget. Meski nggak keliatan bertato atau tindik seluruh wajah, tapi tatapan mereka itu beneran aneh dan bikin kita semua takut. Aku udah tatap-tatapan aja sama Beta. Udah ingin turun. Mana hujan makin besar dan mang angkotnya nyuruh kita nutup jendela. Parahnya lagi, kita baru nyadar bahwa angkot itu berkaca film, yang cuman keliatan coklat tua dari luar. Huh, makin paniklah kita, biarpun angkot itu penumpangnya nggak cuman kita doang. Aku berkali-kali istighfar, beta udah komat-kamit terus, gini katanya “God, save me please...” Aku makin takut. Aku langsung nge sms karlin, sebenernya yang ini bodoh banget karena aku dan karlin itu duduknya sebelahan! Yah, nggak apa deh, berkorban pulsa sekali sms demi keselamatan jiwa. Di tengah ketakutan kita, tiba-tiba karlin mulai nyeletuk seperti biasa. Kita mulai ketawa dan ngobrol lagi kayak sebelumnya. Dasar anak-anak aneh, tadi ketakutan sekarang ketawa-ketawa, mungkin itu yang ada di benak ketiga pemuda. Karlin terus aja nyoblak sampe kita ketawa ngakak dan tiba-tiba satu pemuda yang duduknya tepat di depan karlin nggak kuat nahan ketawa. Dia yang tadinya sangar, jadi sok-sok nutupin mulutnya gitu pake talapak tangan. Mungkin dia mau pura-pura batuk, tapi nggak berhasil. Bibirnya mulai bergetar, mukanya agak merah, badannya mulai bungkuk-bungkuk dikit demi nahan ketawanya. Gengsi dong, tadi ngeliatin dengan tatapan nakut-nakutin sekarang ikutan ketawa :D Aku sama beta udah makin ngakak aja ngeliatnya. Nggak lama, ketiga pemuda itu pun turun dan lari ke warung di pinggir jalan buat berteduh karena hujan deras banget. Kita lega banget deh, langsung mengucap syukur berkali-kali. Agak parno sebenernya karena dulu kita pernah seangkot sama pencopet juga yang ciri-cirinya kurang lebih sama kayak pemuda-pemuda tadi. Semoga aja jangan pernah ngalamin lagi.

Singkat, kita sampai di Gor. Mang angkotnya berhenti nggak pas di gerbang gor, tapi agak lewat jauh, terpaksa kita lari menembus hujan yang waktu itu bener-bener deras. Kita lari udah kayak cheetah sampai ke pos satpam. Di sana sepi banget, maklum sih, hujan deras gitu mana ada orang yang mau main ke gor. Di pos satpam, kita riweuh masing-masing, dari mulai nutupin tas, ngeringin baju, nutupin jaket ke kepala, ngiket tali sepatu, dan sebagainya. “Siap?” setelah semuanya ngangguk, kita lari lagi dari pos satpam ke dalem gor, lompat-lompat di atas genangan air di bawah hujan dan itu bener-bener bikin kita basah kuyup. Tapi biar basah kuyup, kita nggak berhenti ketawa. Karena sama kalian, meski hujan-hujanan aku tetep bahagia  Nyampe di dalem, kita langsung masuk ke ruangan tempat pendaftaran, untung aja mbak-mbak dan mas-masnya baik, mereka ngebolehin kita duduk-duduk dulu di semacam ruang tunggu gitu. Kita yang waktu itu udah cape banget langsung aja nganggep ruangan itu sebagai rumah kita sendiri. Pertama ikut duduk, terus ikut ke toilet, lama-lama ikut ngejemur jaket di kursi, terus akhirnya jadi ikut makan deh, pesen mie ayam yang kebetulan lagi nangkring di depan. Selesai makan, kita nunggu ujan reda sekitar 10 menit. Terus kita jalan kaki sampe perempatan dan barulah kita naik angkot. Huh, di angkot kita cuman diem karena udah cape dan ingin cepet nyampe rumah.
Seneng? Banget! Cape? Lebih banget!!! Tapi, peristiwa hari ini bakal bikin Last 3 Months ku jadi lebih warna-warni.
Thanks kawan-kawan tercinta :’)





  

 


Last 3 Months

Halo blogger...

  

Menjelang kelulusan, waktu emang selalu terasa berputar dua kali lebih cepat. Makanya, aku ingin mengabadikan semua momen berharga di SMA yang nggak akan pernah terulang lagi ini dalam sebuah tulisan. Sebut saja #L3M atau Last 3 Months. Mungkin kalo di majalah-majalah semacam rubrik gitu, entahlah apa namanya kalo di blog. Jadi, jangan bosen sama tulisan-tulisan ber-hashtag #L3M ini yaaa :D