Laman

Minggu, 25 Desember 2011

Lihat Lebih Dekat (Sherina)

Bila kita dapat memahami
Matahari menemani
Kita dalam kehangatan
Hingga sang rembulan bersenandung

Menina bobokan seisi dunia

Dalam lelap setia
Tanpa terpaksa

Bila kau dapat mengerti

Sahabat adalah setia
Dalam suka dan duka
Kau 'kan dapat berbagi rasa
Untuknya

Begitulah seharusnya

Jalani kehidupan
Setia....setia...setia
Dan tanpa terpaksa

Mengapa bintang bersinar

Mengapa air mengalir
Mengapa dunia berputar

Lihat sgalanya

Lebih dekat
Dan kau akan mengerti...

Entah

Tak ada lagi yang kini kunantikan. Lenyap. Musnah.
Ditelan mimpi-mimpi yang tak pernah menjadi nyata.
Kebenaran kecil dan kebohongan besar itu seakan terbalik, terombang-ambing di tengah luasnya samudera. Terbang bersama angin, hingga tak pernah lagi kembali.
Seulas senyum saja yang masih bisa kuharap. Walau sedikit. Sedikit saja. Atas kebenaran yang telah dilakukan. Entah besar, atau kecil. Namun ketulusan yang pasti...

Sabtu, 17 Desember 2011

Hari ini dan Ulang tahun kami ;)

Halo blogger, apa kabar hari ini? Beneran deh, pagi-pagi kayak gini tuh, enaknya ngopi sambil blogging, huh... godaan banget, padahal setengah jam lagi harus pergi ke sekolah buat rapat *curcol nih
Oh iya, jadi lupa tujuan awal, sebenernya nih, aku mau cerita tentang kemarin, emang ada apa sih kemarin? Kemarin itu...

Pagi-pagi aku berangkat ke sekolah sama sobat sekaligus kembaranku peninbank. Di jalan, dia cerita kalo semalam dia mimpi ketemu Super Junior dan dipeluk sama leeteuk (bener ga ya nulisnya), dia cerita semangat banget di angkot dan aku cuman ngangguk2 karena ga ngerti hehehe. Singkat cerita, kita pun sampai di sekolah, penina langsung cerita2 tentang mimpinya itu ke rida, mereka ketawa2, maklum sesama k-pop lovers. Abis itu ratna bilang kalo dia bawa UNO, keluarga UNO pun langsung merapat, hehehe. Kali ini personilnya aku, penina, rida, r
atna, evi, egi, nisa, raka, karlina, mustofa. Peraturan masih sama kayak dulu, sebelum UNO yg pertama disita bu Diana, yaitu ga boleh ngomong 'AKU', 'UNO', dan nama pemain.
Setelah main, aku nyamper melinda di IPA1 buat ngambil kertas koran, terus aku meluncur ke tas dan membungkus 'sesuatu' hehehe. Aku, ratna, sama rida saling mengucapkan selamat ulang tahun. Iya, kita bertiga hari itu ulang taun. Hahaha udah deh, bocorin aja. Sebenernya hari itu ulang taun PBI. Masih inget PBI kan? Ya, kita udah setaun ternyata. Hehehe. Oh iya, kita mau ngadain acara tuker kado nih hari ini, dan karena dendy ga ada yg ngasih tau (karena kita ga ada yg punya nomornya), jadi dia bikin mendadak pagi2. Kertas hvs ditulis PBI dengan font yg jepang2 gimanaaaa gitu. Plus gambar balon2, terus ada gambar cowok, tulisannya hansamu
(b.jepangnya ganteng) dipinggirnya nama2 personil cowok PBI. Di sebelah kanannya tulisan kirei (b.jepangnya cantik) dengan nama2 personil cewek PBI. Di atasnya ada tulisan Ida sensei wa empitsu desu (harusnya 'Ida sensei no empitsu desu' dendy! hehe). Keren banget tapi gambarannya, pake hiragana katakana pula! Cinta Jepang banget si dendy ini, hehe.
Singkat cerita lagi, anak-anak kelas udah pada bubar, PBI ngumpul di markas (depan IPA 3). Waktu itu baru ada aku, mel, irma, ratna, rida, ulfa, rahdam, hans, ada amel juga, dia bukan PBI tapi sksd sama kita hehehe peace amel. Ilham dendy yudo ga bisa dateng, sedangkan hilman erik fazril dateng habis jumatan. Setelah semua lengkap, kita tukeran kado. Bodor bangetlah disana. Aku dapet jepit, karet jepang, dan lain-lain yang belinya pasti di emang2 yang jualan ser
ba seribu. Ternyata itu dari erik. Hahaha kocak, untung yang dapet bukan cowok. Ada yg dapet pensil, gantungan kunci, gambar, rubik, rokok *eh (maksudnya bungkusnya doang, isinya kalung tengkorak hehehe), dan lain-lain. Kita foto-foto dikit pake webcam di laptopnya rida.
Beres itu, kita melanjutkan ke mtc. Sebenernya banyak yang ragu jadi atau enggak karena beberapa faktor. Tapi, akhirnya sih jadi juga. Kita kesana naik motor. Sial banget deh. Si mel udah ditebengin irma, rida sama ratna, erik hilman dan rahdam hans. Oke. Suram, tersisa fazril. Baru naik aja dia udah bilang 'wayahna yah... bensin, tiket masuk, blablabla...' heuh, bt kan. Tapi, yaudahlah yah daripada jalan kaki juga. Kita pun caaawww (tapi sebelumnya jemput Ilham dulu di kost-annya. Jadi Ilham semotor bertiga sama hans dan rahdam.Akhirnya kita sampai di mtc. Eh iya, emang ngapain sih ke mtc? Lupa cerita deh... Jadi, kita mau mengunjungi dunia lain *alaaah maksudnya rumah hantu itu loh. Begitu sampai di depannya, udah banyak suara-suara yang menakutkan, hahaha bikin kaki gemeteran tau ga. Tapi tetep aja, aku pengen banget masuk. Kasian rida, dia bilang 'ah tutup tuh udah deh ayo pulang ih' hehehe. Dia takut banget. Tapi kita paksa! *jahat! Akhirnya kita masuk. Karena kebanyakan, kita kan 11 orang, jadi dibagi 2 tim. Yang pertama masuk itu ratna, rida, erik, hilman, fazril, ilham. Mereka masuk aja. Setelah beberapa menit, sisanya masuk. Berjejer rahdam-aku-irma-mel-hans. Pas masuk ya, gelap banget, cahayanya tuh cuman dikit remang2 gitu. Begitu masuk, baju belakang aku tuh udah ditarik sama irma kenceng banget *wah, bisa robek nih. Aku juga megang kupluknya rahdam, soalnya takut ditinggalin. Pas masuk dan pintu di belakang kita nutup, di sebelah kiri udah ada suara2 yang nakut-nakutin. Widih, baru juga masuk. Jalan lagi, masih di area ruang tamu, di kursi paling ujung aku liat kayak cewek lagi nunduk, rumbutnya nutupin muka gitu, tapi ga begitu jelas karena gelap. Tiba-tiba pas menuju pintu ke ruangan lain, di sebelah kiri ada yang nakol panci atau entahlah apa itu, kaget banget. Teriaklah di situ. Tapi udahnya ketawa-ketawa.
Masuk ruangan-ruangan berikutnya, aku udah ga inget urutannya. Pokoknya ada cewek yang bilang 'tunggu...jangan tinggalkan saya...ikut...' dan kocaknya, si hans tuh dengan pedenya nanggepin 'ayo sini sini ikut' ngakak bangetlah kita di situ. Si hans juga bilang 'merah lucu deh' kalo ga salah pas ada hantu merah gitu deh. Duh! Ada juga pocong yang bilang 'lepaskan tali pocong saya'. Pokoknya makin dalem kita masuk, hantunya tuh makin banyak. Makin banyak juga yang ngagetin. Dan waktu itu, baju aku makin kenceng ditariknya dan aku juga makin kenceng narik kupluk rahdamnya *sobek ga ya sekarang kupluknya dia? hehe.
Akhirnya, ada tirai hitam besar. Ya, PINTU KELUAR! Semangat banget kita jalan kesana. Pas keluar, langsung tukeran cerita sama kelompok sebelah. Si rida udah bete banget kayaknya. Tapi seru deh, beneran, meskipun kurang serem kalo rame-rame kayak gitu. Abis itu kita foto-foto bentar, terus pulang deh. Aku pulang sendiri lewat depan, mereka semua lewat belakang. Eh engga deng, erik sama hans juga lewat depan ternyata, aku ketemu sama mereka di pintu masuk mtc. Awas loh kalian kena tilang. Heheh. Yaudah deh, perjalanan hari itu selesai. Kocak banget deh. Kita pun pulang ke rumah masing-masing. Hehehe
Sekali lagi, Selamat ulang tahun PBI :)

Minggu, 04 Desember 2011

Tuhan Sembilan Senti

~Puisi luar biasa karya Taufik Ismail~

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,

tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu-na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Sabtu, 03 Desember 2011

Welcome December

*pict from here

Pagi membangunkanku, dengan sejuta perasaan lain hari ini. Matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicau seakan memberitahuku akan sesuatu. Lihat, bunga-bunga merah itu bermekaran, indah sekali. Bunga Desember.
Bunga yang selalu mengingatkan kita bahwa tahun akan segera berganti. Mekar seakan menunjukkan pada semua orang bahwa tahun ini telah mereka lalui dengan sejuta kenangan berharga. Akankah ku bertemu lagi dengan mekarmu yang merah di tahun yang akan datang? Semoga...
Ya, semoga...

Jumat, 02 Desember 2011

Science 2 Family

Halo blogger, udah berapa lama ya aku duduk di bangku kelas 11 SMA? Yang jelas udah lama banget setelah aku ngepost entri: tenfive and twentyfive are now be a part of me :) dan Hiruk Pikuk MOS dan Semua Suasana Baru.Masih ingatkah? *nggak deh kayaknya

Nah, setelah selama itu, aku baru ngeh kalo ternyata belum aku ceritain secara lengkap tentang kelas yang sekarang mulai bisa diacungi jempol ini. Jelas lah, kita udah hampir satu semester bareng-bareng, aneh aja kan kalo nggak akrab-akrab. Kelas kita ini, 11 IPA 2, dijuluki 11 IPS 5 oleh guru-guru. Duh! Emang sih, awalnya kita nakal banget *kita?. Guru-guru marah dan protes sama kita sekelas. Tugas lelet, ulangan jeblok, ruang kelas berantakan, aaaaaaaaaaah jadilah julukan kelas 11 IPS 5 itu jatuh pada kita. Di 25 kan kelas IPS cuman sampe 4, jadi yang ke-5nya, ya kelas kita.

Tapi, itu dulu...
Nggak tau kapan sih pastinya kita mulai berubah menjadi lebih baik. Yang jelas, ada beberapa kejadian yang menurut aku bikin kita sekarang makin kompak.

Aku lagi asik bercanda di baris kedua bangku paling belakang sama Ita sambil nyoret-nyoret kardus bekas tugas PLH. Temen-temen yang lain juga lagi pada ribut banget. Tiba-tiba Tommy masuk sambil ngegebrak meja.
"Hey! Ribut banget sih! Kita ini kelas IPA!!! IPAAA!!!", Tommy teriak. Kaget banget liat Tommy yang biasanya kocak dan mukanya lucu ga nahan bisa marah dan semengerikan itu -lebay-.
"Dua taun loooh", entah Riyadh atau Igo yang ngomong gini.
Habis itu Tommy ngebentak kita lagi, cukup panjang sih kata-katanya, tapi intinya dia menekankan pada kita bahwa "KITA INI KELAS IPA"
Hening sejenak, ga ada seorangpun yang ngomong lagi, tapi tiba-tiba dari luar kelas ada temennya Tommy yang bilang "Naon atuh Tom", dan Tommy ga bisa nahan ketawa, kita pun sekelas ikut ketawa. Parah banget deh pokoknya.

Pernah juga, bu Yeti protes karena kelas kita katanya bikin beliau dan banyak guru kecewa. Emang sih, banyak yang ga merespon kritikan bu Yeti itu, tapi aku cukup sadar kalo yang beliau bilang itu ada benernya, karena semua guru pun bilang gitu sama kita.

Satu lagi, Bu Diana wali kelas kita tercinta. Beliau, jujur aja, salah satu guru yang aku kagumi. Bu Diana bilang kalau rata-rata nilai ulangan kita paling rendah dari kelas IPA lain. Bu Diana juga udah pusing kayaknya dapet laporan dari guru-guru tentang kelakuan kita yang 'menyebalkan'. Tapi beliau sabar banget ngadepin kita, beliau selalu ngasih kita motivasi untuk maju. Dan bener, hasilnya kita jadi lebih kompak. Ngecat kelas bareng, ngerayain surprize party pas Bu Diana ulang tahun, ngerayain hari guru bareng, dan banyak yang udah kita lewatin bareng-bareng, padahal belum genap satu tahun kita sekelas.

Besok hari terakhir kita melaksanakan Ujian Praktek. Tadi kita ujian praktek senbud. Sebelum kelompok satu (kelompok aku) tampil, kita sekelas berdoa bareng. Alhamdulillah semua kelompok tampil baik dan maksimal. Setelah ke-3 kelompok di kelas selesai tampil, kita semua foto-foto. Rame banget, meskipun ada beberapa orang yang keliatan bad mood, gatau kenapa.

Bentar lagi UAS, semoga nilai-nilai kita memuaskan yah ;) Kita harus berdoa dan belajar terus.
Yaaaah semoga aja IPA 2 bisa makin kompak. Oh ya, ini pejabat-pejabat kelas yang kayaknya harus rada dikenalin hehehe.

Tommy Rahadian (KM)
Aliftsa Ibrahim (WKM)
Penina Tarigan (Sekretaris)
Diajeng Ayu (Bendahara)
Mustofa Saturinaryanto (Kebersihan)

Sekian deh, pastinya masih banyak cerita yang mungkin lain kali aku ceritain di sini. Keep kompak @scince2family