Halaman

Kamis, 22 September 2011

25 Berduka...

Siapa sih yang nggak bangga sekolahnya bisa menjadi wakil suatu pertandingan sampai tingkat provinsi? Melawan sekolah-sekolah lain dan mengangkat nama sekolah. Kebanggaan itu hilang sesaat hari ini. Kenapa??? Kenapa kenapa kenapa?

Tim sepakbola Jawa Barat yang diwakili oleh SMAN 25 Bandung kalah 0-1 melawan tim Sumatera Selatan. Aaaaah masih kurang rela nih, tapi gapapa, tim yang baik itu harus sportif bukan? ;) Well, here's the story began...

Hari ini siswa-siswi SMAN 25 gak diliburkan, yang gak nonton bola masuk seperti biasa jam 06.30, dan yang nonton bola harus kembali ke sekolah setelah pertandingan usai. Heuh, males banget kan? Hehehehe biasalah, penyakit para pelajar. Kami putuskan buat ikut nonton aja, lumayan refreshing bentar. Kami berangkat sekitar jam 6.15, bukan karena gak tau bahwa tempatnya jauh, tapi karena ada salah seorang dari kami yang telat. Oke itu nggak masalah, yang penting akhirnya kami sampai dan permainan baru berlangsung selama sekitar 15 menit.
Pertandingan berlangsung sengit pada babak pertama, kedua tim belum ada yang bisa memasukan bola ke gawang lawannya. Pernah sih, Jabar masukin, tapi ternyata offside. Teriakan gembira kami berubah menjadi teriakan kecewa. Mata kami juga sempat menangkap beberapa gerakan kasar lawan, entahlah...itu yang kami lihat, tapi wasit berkata lain dan kami sadar ialah yang berkuasa.
Babak berganti, di babak dua ini kedua tim mulai saling menyerang dan seringkali nyaris mencetak gol, namun tetap belum ada yang berhasil. Para pemain terlihat mulai lelah dan terkadang dilakukan pergantian pemain. Kartu kuning pun sempat diberikan kepada beberapa orang baik itu dari tim Jabar maupun Sumsel. 15 menit terakhir menjadi sangat menegangkan bagi kami karena belum satupun gol tercetak oleh tim kami maupun tim lawan, para siswa dan guru terus memberikan support. Kami meneriakkan lagu-lagu semangat dan do'a. Ketika permainan semakin sengit, tak disangka sebuah gol dicetak oleh pemain Sumsel ke dalam gawang Jabar. Sejenak terjadi keheningan, namun detik kemudian semua berteriak kecewa. Tapi kami akui, gol yang mereka cetak sangat mulus. Tendangannya berhasil mengecoh kiper kami sehingga bergerak ke arah yang salah. Tidak ingin para pemain putus asa, kami mulai bertepuk tangan kembali, memberi semangat. Tepuk tangan kami semakin pelan seiring waktu yang terus berjalan. 10 menit...5 menit...sampai wasit memberikan tambahan waktu 2 menit pun, tim Jabar belum bisa mengejar kekalahan. Kami mulai pasrah, namun tidak berhenti berdoa. Tapi kehendak Tuhan, siapa yang bisa melawan sih.
Emang belum saatnya Kita berhasil. Belum saatnya kita masuk final. Mungkin tahun depan...yah...semoga...
Waktu habis. Semua pemain terduduk di lapangan. Mereka menangis, begitu pun sang pelatih. Ya, kami mengerti. Mereka berlatih keras untuk membawa nama baik sekolah, dan mereka gagal dengan skor yang berbeda tipis di semifinal. Kami semua kecewa. Namun setelah itu kami mencoba menghibur para pemain yang terlihat sangat sedih, guru-guru membujuk mereka. Tapi kami tahu, semua butuh waktu. Guru-guru menyuruh kami kembali ke sekolah. Namun tak disangka, sekelompok anak yang belum pulang membuat keributan. Hal yang sebenarnya tidak perlu dilakukan. Memalukan. Tindakan sebagian kecil siswa itu mencoreng nama 25, seolah2 kami tidak sportif. Namun akhirnya hal tersebut dapat ditangani dan semua kembali normal.

Kita wajib bersyukur atas prestasi ini. Meski gugur di semifinal, namun prestasi tetap prestasi. Menang dan kalah adalah wajar dalam sebuah pertandingan. Atas dan bawah tidak masalah. Yang terpenting adalah kejujuran, semangat, dan sportifitas :)

HIDUP SMAN 25!!! HIDUP KOTA BANDUNG!!! HIDUP JAWA BARAT!!! HIDUP INDONESIA!!!

Senin, 05 September 2011

A Little Story

*pict from google


Gerimis masih turun di kota kecilku malam ini. Tetesan-tetesan air membasahi jalanan dan taman kota yang berada di depan bangunan tempatku berada. Aku duduk di lantai 2 sebuah kafe kecil. Sengaja aku memilih tepat duduk paling pojok. Lewat kaca jendela besar di sebelah kananku yang sedikit berembun, aku dapat menikmati pemandangan taman yang begitu indah. Lampu-lampu, bangku taman, pepohonan, dan bunga-bunga yang bermekaran, ah...rasanya tak akan pernah bosan aku berada di sini.
Kulirik secangkir kopi panas di depanku yang mungkin sekarang sudah berubah nama menjadi kopi dingin, sama sekali tak kusentuh cangkir tersebut sejak diantar oleh pelayan 1jam lalu. Kemudian pandanganku bergeser sedikit ke arah kanan. Sebuah laptop. Laptop yang sudah kuanggap sebagai sahabat sejatiku sendiri. Tersenyum aku membaca semua komentar di blog pribadiku. Di mana aku menuliskan segala isi hatiku. Semua itu membuatku merasa lebih berharga. Membuat aku merasa tak memiliki kekurangan sama sekali.
Sejenak aku melamun hingga seorang pelayan memberiku isyarat bahwa kafe akan segera tutup. Aku mengangguk dan segera mengemasi barang-barangku, kemudian berjalan santai ke arah pintu keluar. Tak lupa aku memberi senyum pada pelayan yang berada di samping pintu. Hujan rupanya telah reda. Aku berjalan pulang sambil memikirkan apa yang akan aku tulis selanjutnya. Tulisan yang bisa mewakilkan ucapanku. Agar aku tetap dapat mengungkapkan isi hati kepada orang lain meskipun aku tak dapat mengucapkannya. Agar orang yang bernasib sama sepertiku tidak berkecil hati dan percaya bahwa mereka pun bisa seperti orang-orang di sekitar mereka yang terlahir sempurna.