Laman

Jumat, 22 Oktober 2010

SEPULUH LIMA

Ih maaf ya posting ini nggak jelas banget ih hahahaha. Tadi tuh lagi nggak ada kerjaan banget dan nggak tau kenapa larinya ke paint, ngegambar deh. Bingung mau gambar apa, jadilah gambar tentang semangat perjuanganku membangkitkan semangat x-5, haha lebe ya emang. Tapi yasudahlah.. maafkan kegejean ini, nungguin postingnya rida nggak muncul-muncul huuu :(((

Selasa, 12 Oktober 2010

take your time ;)

Hello blogger, kali ini aku bakal bahas tentang WAKTU, karena ternyata topik ini menarik banget buat kita telusuri. Hari Sabtu kemarin, seperti biasa aku latihan pramuka, dan materi hari itu tentang manajemen waktu. Pemberi materinya kang Braja, wuih, aku suka banget nih materi kali ini. Makanya, aku pikir gak ada salahnya buat berbagi ilmu yang baru aku dapat ini sama teman-teman blog.

Pernah terpikir gak sih sama kalian, apa yang dimaksud dengan waktu? Atau yaa definisinya gitu...? Jujur aku bingung banget loh ngejawab pas kang Braja nanya ini.
Waktu menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1997) adalah seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan atau keadaan berada atau berlangsung. Tapi menurut teman-teman Pramuka penggalang, waktu itu perubahan.. nah lo, aku bingung banget deh pokoknya... Oke, biar ga jenuh, aku ajak kalian jalan-jalan ke masa lalu bentar deh..semoga aja setelah ini bisa dapat titik pencerahan >>>>

Waktu kita duduk di kelas 4 Sekolah Dasar, kita belajar tentang benda-benda 2 Dimensi seperti lukisan, poster, foto.. Benda-benda tersebut hanya bisa dilihat dari satu sisi. Nah, kita naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi hingga kelas 7 Sekolah Menengah Pertama, di sini kita belajar tentang benda-benda 3 dimensi, mereka memiliki ruang, dapat dilihat dari berbagai sisi.
Daaaan kita kembali lagi ke topik awal kita, waktu!!! Waktu ternyata merupakan dimensi tambahan... yaitu dimensi 4! Hmm.. gatau deh kayak apa bentuknya, hehe. Kita semua tentunya tau bahwa waktu nggak bisa diulang. Tapi, Einstein bilang ada kemungkinan bahwa waktu itu bisa diulang, waw..siapa coba yang nggak percaya sama Einstein? Teori tersebut dinamakan teori Lubang Cacing. Dalam teori tersebut dikatakan adanya kemungkinan bahwa waktu dapat diulang, dengan syarat harus bisa melebihi kecepatan cahaya. Sekarang, timbul deh pertanyaan baru : Berepa sih kecepatan cahaya? Kecepatan cahaya adalah
3.108m/s. Kenapa? Keliatan pendek ya? Oke, kita perjelas... 300.000.000 m/s. Alias Tiga Ratus Juta meter per sekon!!! Subhanallah.. aku aja gak bisa bayangin segimana cepetnya. Pernah sih, ada yang berhasil memindahkan suatu benda menyamai kecepata cahaya, tapi apa yang terjadi? Setelah benda tersebut berpindah tempat, ia sudah tidak berbentuk, berubah menjadi debu..saking cepatnya. Ckckck.. kalo ada yang berhasil melebihi kecepatan cahaya dan utuh sih bisa ngulang lagi waktu kali, hehe.

Nah, untuk me-manajemen waktu, kita bagi kegiatan kita menjadi 4 macam. Penting dan mendesak, penting tapi tidak mendesak, tidak penting tapi mendesak, yang terakhir tidak penting dan tidak mendesak. Yang harus kita kurangi adalah yang terakhir tadi. Nggak penting dan nggak mendesak, dikurangi aja. Aku sadar bahwa minggu kemarin banyak banget kegiatan tidak bermanfaat yang aku lakukan. Kang Braja menugaskan kami buat menuliskan kegiatan apa aja yang sudah dilakukan selama satu minggu. Dan ternyata diantara hal-hal penting yang aku kerjakan, terselip juga : mengkhayal, ngomongin orang, ngelamun. Ih..malu-maluin ya? Yaudahlah, dari sekarang kita rubah semua kebiasaan jelek tersebut menjadi hal yang lebih bermanfaat ;))

Inget! Take Your Time. It will change your life ;)

Rabu, 06 Oktober 2010

Kita adalah pelangi...


Pelangi.
Aku selalu terpukau mendengarnya. Warna-warna indah terbayang jelas setiap mendengar kata tersebut. Saat kecil dulu aku selalu ingin pergi ke sana. Tinggal di atas sana dan bermain seluncuran menggunakan pelangi. Apalagi setelah menyaksikan Video Clip Sherina yang berjudul Balon Udara, saat itu aku percaya bahwa awan bisa diinjak, dan aku semakin bersemangat untuk menggapai pelangi.

Pertama kali aku melihatnya saat sedang menuju rumah nenek bersama saudara-saudaraku. Mungkin sekitar 9 atau 10 tahun lalu. Pertama kali aku melihat pelangi bukan hanya pada gambar di buku cerita yang berjejer di rak buku rumahku. Saat saudara-saudaraku berseru senang, aku justru terbelalak dan tersenyum lebar, tanpa suara. Pelangi itu membentuk setengah lingkaran, bagaikan menembus awan, merah-kuning-dan hijau. Hanya itu. Ya, tidak sejelas seperti yang pernah kulihat di dongeng-dongeng, tapi pelangi itu membuat Nada kecil terpukau.

Usiaku semakin besar, dan saat kepercayaanku tentang awan yang bisa diinjak sedikit demi sedikit berkurang, kekagumanku terhadap pelangi justru tidak pernah hilang.
Aku selalu tersenyum melihatnya, karena ia adalah cahaya yang terbit setelah gemuruh halilintar dan hujan deras. Menyingkirkan setiap kegelapan langit.

Kau tahu? Ternyata semua impian masa kecilku terkabul. Memang tidak persis seperti yang kuimpikan, namun kini aku benar-benar bisa menggapai pelangi...

Kalian adalah pelangi yang dapat kurangkul. Dengan berbagai perbedaan dalam diri kita, bagaikan warna pelangi yang bermacam-macam, namun saling melengkapi. Mereka semakin indah dengan perpaduan warna-warna tersebut. Aku tidak bisa seperti kalian, dan kalian pun tidak bisa seperti aku. Tentunya kita saling melengkapi, dan membuat indah setiap langkah hidup yang kita lalui bersama.
Kita adalah pelangi, yang bersama-sama menyambut mentari. Tidak ada yang dapat memisahkan, selama masih ada hujan dan matahari ;)